Hampir dua minggu saya tidak mengikuti perkembangan di Kompasiana ini, semua ini dikarenakan padatnya jadwal kegiatan dikeseharian pekerjaan saya dalam melayani semua pasien pasien saya, namun Pembaca Kompasiana yang budiman, saya pagi ini telah mendapat Anugerah yang sangat Indah, saat saya baru membuka Kompasiana dan melihat pada file dashboard diblog saya, mendapatkan 3 buah pesan yang masuk melalui Inbox yang ada.
Ketiga pesan itu datangnya dari Adik Rosiy, Adik Olivia dan Adik Fawaizzah,
Saya langsung membacanya satu persatu dan menjawabnya…
Inilah dialog dan jawaban yang saya berikan kepada mereka bertiga dan saya juga memuat isi pesan dari ketiganya.
(Dari merekalah saya mendapat pencerahan, berkah dan hidayah, atas semua yang saya alami dalam dua minggu terakhir ini, semoga ada hikmah yang dapat kita petik)
1. Pesan dari Adik Rosiy ;
Dear Dok Anugra apakabar?
Saya lihat banyak orang yang menyimpan duka di hati nih jadi kalau dokter ada waktu luang tolong menulis lanjutan artikel ‘management hati dan management hidup’ semoga berguna bagi mereka yang sedang berduka tapi disimpan sendirian.
Maaf dok jadi meminta tolong soalnya ternyata emang begitu faktanya sih. Thanks ya dok. Salam buat keluarganya.
2. Pesan dari Adik Olivia ;
Om dokter kok sudah lama ngga ada di kompasiana ya…?. Om sibuk? atau sedang sedih?, Om dokter…, apa yang bisa Olive lakukan buat membantu Om?, walau Olive tak tahu apa dan mengapa Om dokter lama tak kelihatan di Kompasiana, tapi kehadiran Om sangat ditunggu di Kompasiana. Iya Om dokter yang baik…, mungkin Olive hanya bisa membantu Om dalam doa yang Olive akan panjatkan disetiap malam sebelum Olive tidur, agar Om dokter diberi kekuatan olehNya dalam semua kegiatan Om dokter. Amin.
Tapi Om dokter…, Olive ingin berbagi sedikit sebuah kasih, yang Olive baru dapatkan malam ini dari buku renungan harian yang baru Olive baca, ya sebuah Puisi indah dari seorang hamba Tuhan yang bernama BJ. Morbitzer, judulnya ;
“Biarkanlah Aku Memberi”
Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan hidup
Namun, sementara aku masih hidup, Tuhan…, biarkanlah aku memberi penghiburan kepada seseorang yang sedang membutuhkan
Entah melalui senyuman, anggukan kepala, tindakan atau sepatah kata keramahan
Dan biarkanlah aku berbuat apa yang mampu kulakukan
Untuk meringankan beban sesamaku
Aku hanya ingin berbuat bagianku
Untuk sekedar meringankan jiwa yang lelah dan putus harapan
Untuk mengubah kerutan dahi menjadi senyuman lagi
Sehingga hidupku tidak sia-sia
Aku tak peduli berapa lama aku masih berada di dunia
Asalkan aku dapat memberi…dan memberi…dan memberi
BJ. Morbitzer
Om dokter yang baik, Olive merasa sangat terberkati dengan puisi Indah ini, dan Olive ingin membagikan berkat ini kepada Om dokter, semoga Om dokter juga terberkati setelah membaca puisi ini, harapan Olive Puisi ini akan memberikan penghiburan dalam kehidupan Om dokter dan keluarga.
Sekian dulu surat dari Olive, semoga Om dokter sehat dan Tuhan memberkati.
Selamat malam Om, selamat bobo, Olive sangat menyayangi Om dan doa Olive menyertai Om dokter sekeluarga.
Salam dari Olivia Anggraeni Putri
3. Pesan dari Adik Fawaizzah Watie ;
assalamu’alaikum Dokter Anugra……!!
Kok beberapa hari ini kayaknya Pak dokter gak online,..
Pak dokter sehat2 saja kan?
Semoga dimanapun dan kapanpun pak dokter berada selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah swt.
amin
Salam sayang, salam hormat dan salam segalanya dari izzah buat pak dokter sekeluarga.
—o0o—
Dan inilah jawaban saya ;
Assalamualaikum adik Rosiy, adik Olivia dan adik Fawaizzah,
Iya dik, terima kasih kalau tulisan saya bisa mendatangkan banyak manfaat, sungguh memang belakangan ini saya jarang on line, dan tidak mengikuti perkembangan terakhir di Kompasiana, dikarenakan saya sendiri mengalami kegilaan yang tidak wajar dalam diri saya sendiri, hal ini disebabkan karena setelah kepergian adik kita Puri, sepertinya ada suatu yang sangat menyesakkan dada saya, terbayang semua kedukaan atas berpulangnya sebagian besar pasien pasien saya akibat penyakit kankernya, sempat saya menyalahkan dan menyesali diri, mengapa Tuhan harus memilih saya menjadi dokter ahli kanker, padahal saya tak mampu mengemban amanah yang berat ini, dan ini terbukti dengan gagalnya saya menyelamatkan sebagian pasien pasien saya yang harus meregang nyawa dengan melawan penderitaan kanker seperti yang dialami adik Puri, saya merasa bodoh dan merasa tak berguna sama sekali, mungkin hal ini dipicu ketidak-berdayaan saya yang setiap hari harus melihat semua penderitaan pasien pasien saya, dengan segudang rasa sakit yang mendera dan rasa gundah akan sebuah kematian yang setiap saat menderu mereka, tapi saya selaku dokter yang merawatnya tak mampu berbuat banyak dalam membantu sakitnya mereka, ya setidaknya meringankan beban penderitaan mereka, bahkan upaya saya dengan mendurhakai Tuhan dengan mengibarkan bendera perang disetiap kesempatan pada saat melakukan tindakan operasi selalu saja mengalami kekalahan dan terpuruk dalam kubangan kedukaan yang sudah menjadi makanan harian dalam profesi saya, ya hanya kesedihan, rasa tak berguna dan kekecewaan itulah yang selalu menghiasi anak tangga kehidupan yang saya lalui dalam keseharian saya selaku ahli bedah kanker,…sungguh tak bergunanya saya,…sungguh tak layak saya menerima tanggung jawab atas semua harapan kesembuhan dari semua pasien pasien saya, sungguh tak pantas saya menerima ucapan terima kasih dari tiap keluarga yang ditinggal kematian sanak familinya yang tak mampu saya sembuhkan dan masih banyak lainnya…….
Sungguh saya sendiri sedang mengalami pergolakan melawan bathin saya sendiri atas semua kekecewaan dan kesedihan ini, mungkin sebagian besar orang menganggap, bahwa seorang dokter itu figur yang tangguh, figur yang kuat dan figur yang bisa mencarikan solusi terbaik buat masalah kesehatan semua pasien pasiennya, namun tidak buat saya pribadi…, saya figur yang sangat lemah dilengkapi dengan sikap cengeng yang selalu menangis setiap menemui kematian pasiennya, dan segudang kelemahan saya lainnya.
Untuk menutupi semua kelemahan saya ini memang 2 minggu terakhir ini saya mengalami kegilaan dalam pelayanan saya di meja Operasi, sampai suster susterku kebingungan semuanya, karena hampir setiap harinya saya mengoperasi 2 sampai 3 pasien, dengan harapan tak mau menunda jadwal operasi mereka, seperti kesetanan, saya bekerja tak mengenal rasa lelah, saya tidak ingin membuat pasien pasien saya mengalami penderitaan panjang akibat jadwal operasi yang sangat banyak antriannya, ya saya kesetanan………
Sebab saya mengira dengan cara ini, semua pasien pasien saya akan sedikitnya berkurang rasa sakitnya yang mendera akibat sakit kankernya, ya saya berpikir demikian………
Namun saya juga manusia biasa, yang tak sekuat dan sehebat dugaan saya, pada akhirnya saya mengalami kelelahan fisik dan mental, hingga saya jatuh sakit, ya saya telah kalah…saya lelah dan hampir menyerah…
Tapi pagi ini saya merasa sangat kecil sekali dihadapan Tuhan Allah, karena Sang Penguasa Hidup telah mengingatkan saya atas semua kesombongan saya ini untuk melawan kekuasaanNya dengan menyatakan perang terhadapNya, ya Tuhan memperingatkan saya bahwa saya tak ada apa apanya dibandingkan denganNya, dengan sakit yang saya alami ini, maka saya mengakui saya makhluk yang sangat sangat lemah…, ampunilah Ya Allah atas semua dosa dan kesalahan yang hambaMu lakukan dengan sengaja ini, mohon ampunan atas semua kekhilafan dan kesombongan ini ya Allah Tuhanku…
Semoga saja Tuhan masih mau membukakan pintu tobat buat hambaNya yang tak tahu diri…, Amin.
Dan sekali lagi saya mengalami sebuah kejadian yang tak terduga, entah mengapa saat saya membuka Kompasiana pagi ini, banyak pesan yang masuk dalam Inbox saya, salah satunya dari adik Rosiy, adik Olive dan adik Fawaizzah, yang sudah menggugah hati saya akan sebuah kesadaran bahwa saya masih dibutuhkan oleh teman teman terbaik saya di Kompasiana ini, terima kasih adik Rosiy, adik Olive dan adik Fawaizzah, kalian telah membuat abangmu ini menjadi semangat lagi, dan menyadari bahwa diri ini masih berguna, dengan himbauan adik Rosiy untuk menulis artikel management hati dan management hidup, kalau adik Rosiy menyampaikan artikel yang saya buat itu ada manfaatnya, artinya sebuah tulisan saja bisa memberikan manfaat, dan artinya lagi dengan kemampuan saya selaku dokter ahli kanker pasti juga masih ada manfaatnya buat sesama…
Terima kasih adik Rosiy, adik Olive dan adik Fawaizzah dengan pesan yang adik-adik kirimkan dan baru saya baca pagi ini, sudah menjadi obat terbaik yang mengembalikan kepercayaan dan semangatku yang sempat hampir hilang dan hampir membuatku menyerah dan kalah…
Subhanallah, Puji Syukur Ya Allah, ternyata pagi ini Allah telah mengirimkan tiga Malaikat yang cantik yang sangat baik dan berhati mulya yang telah mengerakkan hati ketiganya untuk berkirim pesan kepada hambaMu ini, terima kasih Tuhan atas semua Hidayah dan Rahmat ini, Amin.
Salam buat adik Rosiy, adik Olive dan adik Fawaizzah dari kami sekeluarga, Anugra Martyanto di Purwokerto
catatan : Tulisan ini saya dedikasikan buat adik kita, adik Puri yang telah pergi menuju Surga Allah.
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
