Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mas Zen

Nama lengkap ahmad zainul ihsan arif biasa dipanggil maszen. Mencoba menceritakan kehidupan yang dilihat oleh selengkapnya

Kartun dan Anekdot Kritik Penguasa makin marak beredar di Facebook

OPINI | 31 October 2009 | 17:19 Dibaca: 3568   Komentar: 8   0

Kartun dan anekdot sering muncul atas kekesalan terhadap ulah penguasa negara yang tak pernah berhenti membuat keonaran-keonaran. Belum selesai keonaran masalah BLBI, muncul keonaran Bank Century yang kini Berubah Jadi Bank Permata muncul lagi keonaran kriminalisasi KPK, dan keonaran-keonaran yang lain yang tak kalah serunya. Praktik-praktik korupsi, politikus hitam, pejabat korup, pejabat korup terliat semakin merajala rela di mata jama’ah fesbukiyah.

FOTO_PROKLAMATOR_DIEDIT
Salah satu facebooker rela menghabiskan waktu beberapa jam untuk mengedit sebuah foto peristiwa ketika soekarno-hatta membacakan teks proklamasi. Foto pembacaan proklamasi yang khidmad berubah suasana menjadi foto soekarno-hatta menjadi anak band. Foto editan tersebut diberi teks berikut, Mungkin kayak gini ya, potret momentum bersejarah detik2 Proklamasi RI yang muncul di benak para teroris, pejabat korup, politikus hitam dan perampok BLBI…he he..

Tak hanya itu, kartun yang mengkritik makin bobroknya mental penguasa pun jumlahnya tak sedikit. Ratusan bahkan jumlahnya mulai mengalir deras beredar di jamaah fesbukiyah. kartun-kartun mulai berhamburan pertanda penguasa negeri ini kudu segera intropeksi diri bila tak mau nantinya kartun-kartun, atau anekdot itu menjungkalkan kekuasaannya.

Ingat kartun dan anekdot, saya teringat jaman 10 tahun terakhir rezim soeharto dan jaman penjajahan jepang. Kartun dan anekdot menyebar deras dari tangan ke tangan, mulut ke mulut yang mengkomunikasikan kesengsaraan rakyat dalam satu langit. Kartun dan anekdot sering digunakan disaat komunikasi rakyat dan penguasa terdengar suara nada tulalit tulalit, di saat penguasa menjadi tirani.

9028_1135719236897_1344818241_30356497_6254680_n

kartun dari cakripin beredar di fasbuk

Salah satu anekdot yang berkembang pada masa orde lama, yang sempat dibukukan oleh james danandjaya:
Pada masa perang kemerdekaan ada seorang pemuda pejuang yang sudah dalam keadaan sekarat karena lukanya yang berat. Dia sedang dirawat di RSU sekitar jalan diponegoro jakarta. Yang merawat pemuda pejuang tersebut kebetulan adalah suster muda belia nan cantik. ”Dik, tiba-tiba pemuda berkata dengan suara lemah. Dapatkah adik untuk terakhir kalinya mendapatkan selembar potret sang dwitunggal kita?” ”Tentu Kak!” Jawab gadis itu tanpa ragu-ragu karena tak mau mengecewakan pemuda pejuang yang sedang sekarat.

Tugas sang suster dari pemuda tersebut tidaklah ringan. Pekerjaan mendapatkan selembar foto dwitunggal yang harus dilalui dengan pengawasan tentara NICA yang ketat. Untuk menyelundupkan foto dwi tunggal harus melalui penjagaan ketat serdadu musuh. Si suster cantik tak habis akal. Di tempelkannya foto presiden di paha kanan bagian atas sedangkan foto wapres di paha kiri bagian atas pula.
Setiba di samping ranjang pemuda pejuang, secara perlahan suster menyingkap roknya. Muka sang pemuda yang pucat pasi segera terang. Dengan penuh terima kasih, sang pemuda berkata, terima kasih banyak dik, adik telah membawakan foto para pemimpin, pejuang kita. Adik demikian baik. Bukan saja membawakan foto dwitunggal saja, namun juga foto jenderal X yang brewokan itu.
Setelah mengucapkan kata-kata terima kasih sang pemuda pejuang memejamkan mata untuk selamanya.

maszen

Tags: kartun anekdot

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan di Bandara Sydney Ekstra Ketat …

Tjiptadinata Effend... | | 20 November 2014 | 18:49

Ayo! Berswasembada Pangan Mandiri dari …

Luce Rahma | | 20 November 2014 | 20:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Monas Kurang Diminati Turis Asing, Kenapa? …

Seneng Utami | | 20 November 2014 | 18:55

Belum Dapat Konfirmasi e-Ticket …

Kompasiana | | 16 November 2014 | 00:48


TRENDING ARTICLES

Islah DPR, Pramono Anung, Ahok, Adian …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Putra Kandias, Kini Ramai Dibully Karena …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Ahok, Gubernur Istimewa Jakarta …

Rusmin Sopian | 7 jam lalu

Keberanian Seseorang Bernama Jokowi …

Y Banu | 7 jam lalu

Kesalahan Jokowi Menaikan BBM …

Gunawan | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Timnas Selalu Kalah? (Part 2) …

Bayu Teguh | 7 jam lalu

Guru Hebat Pasti Bisa Menulis …

Muthiah Alhasany | 7 jam lalu

Manfaat Tersembunyi Dari Menulis yang Jarang …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Kepak Sayap Guru Berkendara Aksara …

Ang Tek Khun | 8 jam lalu

Pintu Hatiku Telah Terkunci …

Doni Bastian | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: