Sosbud
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Gemar catur namun tak pernah juara. Disalurkan dengan mengoleksi papan/bidak catur dan menulis artikel catur. Hari-hari diisi membaca, menulis, dan bersosialisasi. Selain mengisi www.pepihnugraha.com, mempraktikkan Citizen Journalism. Banyak peristiwa remeh-temeh dan tidak penting, tetapi cukup menarik sebagian kecil orang. Percaya bahwa social media pada akhirnya akan berjalan sejajar dengan media arus utama.
Mari Menulis Buat Almarhumah Puri!
Pepih Nugraha
|  31 Oktober 2009  |  10:33
1275
61
7 dari 8 Kompasianer menilai Inspiratif.

Naluri saya kalau bepergian kemanapun, selagi sedang tidak mengemudikan kendaraan, saya biasanya buka-buka ponsel internet untuk membaca Kompasiana. Jika ada yang perlu saya betulkan, saya segera membetulkannya. Saya baru saja tiba di Ciawi, Tasikmalaya, 300 kilometer timur Jakarta, saat saya pergi ke warnet persis di kediaman saya. Tidak ada niat lain selain membuka Kompasiana, sedangkan saya berada di desa tempat saya dilahirkan lebih 44 tahun lalu itu untuk nyekar ke makam almarhumah Ibu.

Setelah menyalakan komputer dan menulis http://kompasiana.com, saya masuk ke panel (dashboard) dan melihat pesan dari sahabat saya sesama Kompasianer, dr Anugra Martyanto, dokter Kompasianer yang tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah. Begini bunyi suratnya:

Assalamualaukum Kang Pepih,

Kang saya baru saja menyebarkan ke sebagian teman teman kompasianer mengenai berita duka cita, atas meninggalnya adik kita, adik Puri yang tulisannya menceritakan semangatnya melawan penyakit kanker payudaranya.

Mohon, kiranya bisa nggak ya…, artikel artikel yang sempat dipostingkannya itu dijadikan sebuah buku semacam kumpulan testimoni atau apalah, agar bisa kita bagikan kepada semua kompasianer yang mencintainya, walau belum lama menjadi anggota/kompasianer namun sudah memberikan arti tersendiri buat kami semua di Kompasiana ini.

Saya secara pribadi bersedia menjadi sponsor sebagian pendanaannya, tak ada maksud lain dari saya, ini hanya saya tujukan buat mengenang semangat dan kebaikan adik kita ini, dan kalau ada hasil dari buku ini, mungkin bisa disumbangkan kepada keluarganya di Jogyakarta, paling tidak bisa menjadi kenang-kenangan tersendiri dari kita kompasianer Kompasiana yang begitu sayang dan peduli kepada adik Puri ini, yang bisa di persembahkan di hari hari terakhirnya dikehidupannya yang begitu singkat buat keluarganya, pelaksanaan teknisnya saya yakin Kang pepih lebih memahaminya.

Punteun ya kang, bukannya saya mau merepotkan kakang, karena saya sadar sudah banyak kegiatan kakang di kantor, namun ini semua disebabkan oleh tergugahnya akan rasa empati saya, karena hal ini sering saya rasakan betapa sedihnya saya bila melihat pasien pasien saya harus meninggal akibat penyakit kankernya.

Saya tunggu ya kang, kalau hal ini bisa memungkinkan, sungguh ini akan bisa mengobati kesedihan yang mendalam buat saya pribadi atas terlalu seringnya saya berhadapan dengan kematian pasien pasien saya seperti yang dialamai adik kita Puri ini.

Salam Hormat dari saya, Anugra Martyanto, di Purwokerto

Saya tertegun membacanya. Pertama, saya agak sedikit tidak percaya adik kita, Kompasianer bernama lengkap Puriwati Purasari Andono, yang memiliki blog sendiri di Kompasiana bernama Ceritapuri (lihat http://kompasiana.com/ceritapuri). Rasanya, baru saja kemarin pagi saya membaca postingan terakhirnya SUSI, Susu Siji*. Sebuah postingan yang well… benar-benar menyentuh, bercerita secara kelakar tentang  stigma atau cap yang diterakan kepada penderita kanker payudara, dimana sebelah payudaranya telah diangkat (susu siji). Puri menceritakan kisahnya dengan polos, tetapi pesannya kuat, mengajak penderita lainnya yang serupa dengannya untuk tetap tabah, gembira, dan ini….. berbagi!

Kedua, saya tak habis pikir, di zaman yang semakin terfokus pada kepentingan diri sendiri dan tak peduli pada urusan (apalagi derita) orang lain, masih ada orang seperti dokter Anugra, yang di tengah kesibukannya, tetap berkirim surat kepada saya, menulis artikel tentang kepergian Puri, terlebih lagi…. terpikir olehnya untuk membukukan kisah Puri sesuai nama blognya, Ceritapuri. Ya, cerita Puri yang dibukukan! Bahkan yang saya tangkap, dokter Anugra mau membiayai sebagian penerbitan buku itu. Luar biasa!

Saya sebagai admin, bukan karena terenyuh atau jatuh kasihan kalau berniat menolah Ceritapuri ini sebagai buku, sebagaimana yang dokter Anugra minta. Lebih karena, saya harus meneruskan semangat Puri dalam berbagi… berbagi sesuatu yang bermanfaat, memompa semangat, tidak mudah loyo dan lembek hanya karena didera penyakit berat… Sesuatu yang jarang dilakukan seorang seperti Puri, yang biasanya “habis”, apatis, lalu terpurukkarena semangat sudah terkikis. Tetapi, Puri tidak!

Postingan Puri belumlah banyak di Kompasiana ini, setidak-tidaknya ada lima artikel. Jika ditambah dengan komentar yang dituai, tentu belum cukup untuk dibuatkan sebuah buku. Tetapi, bukankah kita, termasuk saya, diberi akal oleh Allah yang senantiasa harus dipergunakan setiap saat jika diperlukan, apalagi bagi kepentingan kemanusiaan.

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Apa yang bisa para Kompasianer lakukan?

Menulis mengenai kisah Puri di Kompasiana!!!

Tulisan Anda, para Kompasianer, akan menjadi kumpulan cerita menarik yang memberi semangat. Bukan kepada Puri yang sudah  berada di sisi-Nya dengan tenang, tetapi kepada orang-orang yang senasib dengan Puri, mereka yang menderita kanker, apapun jenisnya, yang saat ini tengah tergolek, terbaring dalam keputusasaan. Bisa jadi, mereka penderita kanker yang masih sanggup berdiri, berjalan, dan tertawa-tawa, tetapi merasa dirinya sudah menjadi “setengah mayat” karena pintu kematian sudah terbuka lebar-lebar.

Dengan cara menulis, menyemangati para penderita kanker, Insya Allah akan menjadi penguat penderita untuk sembuh, dan tetap semangat menjalani kehidupannya. Penderita kanker butuh teman, buruh semangat. Kematian akan terasa semakin cepat datang jika mereka merasa ditinggal pergi, merasa tidak lagi berguna sebagai manusia, sebagai sahabat!

Mari, kumpulkan di Kompasiana ini kenangan atau cerita apapun tentang Puri yang bisa ditambahkan dengan lima postingan Puri sendiri, siapa tahu penerbit berminat mengumpulkan kisah Anda semua, kisah yang kelak akan menjadi semangat bagi siapapun!

***

Postingan ini ditulis di Ciawi beberapa menit lalu, di sebuah desa kecil di Tasikmalaya, dipostingkan seusai nyekar di makam almarhumah Ibu, yang persis pada 10 tahun lalu (20 Oktober 1999) “pergi” akibat penyakit kanker mulut rahim.


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
31 Oktober 2009 10:43
0

sudah kang.. hehehehe

31 Oktober 2009 | 10:46
1

Terima kasih!

31 Oktober 2009 | 10:52
0

tapi bukan tentang kanker payudara, lebih ke puri in memorial. gpp yak? soalnya saya nulis tadi pagi sebelum baca postingan kang pepih :)

31 Oktober 2009 10:46
0

Hati saya ciut seciut-ciutnya Pep … !!

31 Oktober 2009 11:14
0

Untuk kesekian kalinya saya menangis dan menagis (memang saya akui saya typikal pria yang cengeng-red), setiap mengalami hal hal yang berkaitan dengan kematian demi kematian dari saudara saudara kita akibat penyakit kaker, ditambah lagi dengan kepergian adik kita yang kita sayangi ini adik Puri yang baru saja menghadap Illahi hari kamis kemarin (info terakhir yang kami dapatkan), ditambah lagi dengan tulisan Kang Pepih ini, yang juga bertepatan dengan saat menyekar ke makam Ibundanya tercinta di desa Ciawi sebuah desa kecil di Tasikmalaya, yang juga wafat akibat Kanker mulut rahim tepatnya 10 tahun yang lalu.
Inilah yang membuat saya menangis dan menagis lagi, begitu tak bergunanya saya ini dalam melawan penyakit yang satu ini “kanker”, tapi saya akan berusaha dan terus berupaya untuk tetap melawannya, walau dengan keterbatasan yang ada pada diri saya selaku manusia biasa.

Terima kasih kakang Pepih atas semua tulisan dan Simpaty serta Empaty yang sangat membuat saya selalu ingin menangis……..

Salam Hormat dari Kami, Anugra Martyanto, di Purwokerto.

31 Oktober 2009 | 11:34
1

Pak dokter semua orang sedih dan menangis dengan kematian Puri, termasuk juga saya saat pertama membuka pesan dari pak dokter.
Semngat Puri yang begitu menggebu-gebu tak akan saya lupakan.

Jangan pernah berfikir kalau pak dokter adalah orang yang tak berguna, karena pak dokter adalah salah satu dari sekian banyak dokter yang sangat pemurah, berjiwa besar dan baik hati yang pernah saya kenal.

Salam hormat, dan salam kagum saya untuk pak dr. Anugra

31 Oktober 2009 11:19
0

Dukung dengan sepenuh hati saya.

31 Oktober 2009 11:28
0

Selamat jalan ade. Semoga Tuhan berbaik hati.

31 Oktober 2009 11:31
0

semoga kita bisa saling berbagi di postingan tentang puri yang selalu ceria di dalam postingannya, walaupun saya tahu hatinya menangis karena menghadapi kangker ganas di tubuhnya.

salam
omjay

31 Oktober 2009 11:35
0

innalillahi… semoga aku bisa melanjutkan gagasan kang pepih

31 Oktober 2009 11:52
0

selamat jalan puri…
semoga buku itu segera terwujud…..
saya yakin, semua siap mewujudkannya……

31 Oktober 2009 11:53
0

Semoga Allah menempatkan Puri di sisi-Nya yang terbaik..luv u Puri

31 Oktober 2009 12:13
1

Innalillahi wainnailaihi roji’uun. Turut beduka cinta & belasungkawa yg sedalam2nya, dg tulus, ikhlas & penuh empati….
Kebahagiaan saya pagi ini, bisa menemani anak saya yg masih sakit utk berenang. Saya sgt paham, keinginan anak saya sgt kuat utk dpt ‘dikatakan’ sembuh oleh semua orang…

Kbahagiaan saya siang ini, saya kuburkan dalam-dalam, ketika saya mendapatkan telepon dari ‘Anakku’ Fawaizzah di Sby, bhw Adik Puri telah berpulang ke Rahamtullah
Hari ini saya menangis, saat Saudara dan sahabat baik saya, Dr Anugra mengirimkan pesan bhw Ceritapuri telah tiada….

Tak sanggup hati ini meneruskan bacaan. Namun ttp kupaksakan demi mendapatkan informasi yg lengkap mengenai almarhumah….

Insya Allah, akan membantu dan mendukung gagasan kang Anugra dan Kang Pepih.
Doa kami menyertai perjalanan almarhumah menuju perisitirahatannya yg terakhir

salam empati kami
elha

31 Oktober 2009 12:15
0

Ayo temans kompasianers, mari kita lanjutkan semangat Puri. tularkan semangat puri untuk sembuh kepada semua teman2 yang sedang mengalami problem yang sama dengan yang pernah dialami puri. semoga kebaikan teman2 menjadi pahala juga bagi puri, yang telah menyadarkan kita semua tentang apa itu kanker payudara. bukankah amal baik itu seperti MLM, semakin banyak yang ikut berbuat baik maka si pencetusnya akan menerima amal baik pula..

ayo, semangat menulis supaya bukunya segera terbit. supaya semangat Puri tersebar kepada semuanya….

31 Oktober 2009 12:26
0

Insya Allah saya akan menulis…..

Selamat jalan Puri, pada saatnya kita juga akan bertemu, cuma soal waktu.

31 Oktober 2009 12:40
0

Turut berdukacita atas kepergian Puri.
Mari berdoa supaya keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan.
……

31 Oktober 2009 12:41
0

Hormat saya pada Dr. Anugra dan Mas Pepih.. Satu dr dokter langka yg mengedepankan manusia sbg manusia, bekerja dgn hati.. Di tengah dunia yg mengedepankan kepentingan & keuntungan pribadi..

Selamat jalan Puri, selamat berbahagia di pangkuan Nya…

31 Oktober 2009 12:46
0

Langkah Puri, Insya Allah adalah langkah menuju janah. Deret derita tak terukur Puri adalah zikir sungai-sungai sunyi yang akan menjadi taman firdaus di alam langgeng kelak.
Ia telah menjadi abdi…. bukan hanya untuk dirinya, juga untuk kita yang masih hidup.
Puri…berbaringlah pada ruang benderang yang nyaman….Allah menyayangi kamu.

31 Oktober 2009 12:50
0

Trims Kang Pepih, sebuah inspiratif yang sangat bagus dari anda, tentunya bagi para kompasiners, saya selalu bangga punya saudara yang mempunyai kepedulian yang tinggi pada sesama. Juga terkhusus buat Almarhum Adik Puri, alam semesta ikut bertasbih mengiringi kepergianmu, semoga pesan-pesan yang kamu sampaikan akan menjadi kenyataan bagi penderita kanker sesamamu. Sekali lagi Trims buat Kang Pepih juga Dokter Nugraha dengan energi yang ada bisa memberikan kepeduliannya pada sesama.

Salam Silaturahim,

31 Oktober 2009 | 12:58
0

Maaf Kang Pepih, kesalahan redaksi dari saya tertulis Dokter Dokter Nugraha - seharusnya Dokter Anugrah. Atas perhatiannya sebelumnya saya haturkan banyak terimakasih.

Salam,

31 Oktober 2009 13:20
0

datang dan pergi selalu dalam perjalananMu

kenyang dan lapar selalu dalam perjamuanMu

dekat dan jauh selalu dalam rinduMu

sayang dan benci selalu dalam cintaMu

hidup dan mati hanyalah musim berlalu

Aku ini……. doa dalam aminmu

(untuk Puri, tersenyumlah di surga…)

31 Oktober 2009 13:23
0

Pelajaran yang sangat berharga untuk kita semua, datang, hidup dan pergi merupakan ketentuan dari yang Maha Kuasa. Namun memberikan arti untuk sesama merupakan upaya kita sendiri, sejauhmana kita dapat memberikan kebaikan bagi saudara kita, untuk keluarga dan untuk semua. Inilah yang menjadi amal dan bekal nantinya disana.

Selamat jalan Puri, semoga Allah mencatat seluruh kebaikan yang telah anda tebarkan disini, dihati kami. dan anda telah menjadi bagian dari kami.

31 Oktober 2009 13:34
0

semoga diterima amal ibadahnya…

31 Oktober 2009 13:40
0

Insyaallah meninggalnya orang yang kita kenal adalah peringatan bagi kita yang masih hidup, Puri adalah teladan bagaimana menjalani hidup seberat apapun ujian yang Allah swt berikan

31 Oktober 2009 13:41
0

inalilahi wa inailahi rojiun turut berduka cita mudah mudahan almarhumah diterima disisi alah dan keluarga yang ditinggalkanya diberi ketabahan oleh allah swt aminn

31 Oktober 2009 13:41
0

Benar, para Kompasianers, mari kita menulis dengan inti sebuah perjuangan, ketabahan dan keikhlasan dari Puri…selamat jalan anakku, temanku…semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik disisinya. Amin

31 Oktober 2009 13:42
0

setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati. kepergian Puri menghadap Tuhan, mari kita iringi dengan doa, mudah-mudahan diampuni dosanya dan diterima amal ibadahnya.

31 Oktober 2009 13:45
0

Semangat, satu kata yang terpatri diingatan begitu tersebut nama puri.

31 Oktober 2009 13:47
0

Terimakasih Kang Pepih atas sarannya….semoga sahabat kita deberikan tempat terbaik di sisi Allah Swt.

31 Oktober 2009 13:54
0

Ini kesekian kalinya seorang kawan berjuang melawan kanker payudara. Saya baru kenal nama Puri ya setelah baca berita kepergiannya dari Kompasioners. Kali ii Puri. Semua juga akan berpulang, karena nyawa bukan milik manusia, namun kepergian Puri demikian indah setelah dia berjuang melawan kanker. Kepergian yang indah kawan, teriring doa agar Allah SWT memandumu memasuki kehidupan yang jauh lebih mempesona di alam sana. Nulis untuk Puri, dengan sepenuh hati kang

31 Oktober 2009 14:06
0

Ayoooooo, semangat, insya Allah segera menulis. bagi adik Pury, insya Allah , Allah pasti selalu memberi yang terbaik buat hambaNya, apapun itu. Bagi yang ditinggalkan, Insya Allah pula, Allah selalu memberi ujian sesuai dengan kadar makhluk_Nya, agar bisa dinaikan derajadnya. Terimaksih telah kembali memberikan kami inspirasi untuk terus bersemangat apapun yanmg terjadi

31 Oktober 2009 14:54
0

Semoga semangatnya dapat dijadikan contoh oleh sahabat2 kompasianers yang notabene lebih sehat, semoga tulisan Puri akan menjadi amal yang tak pernah putus hingga hari kiamat, semoga Puri mendapat tempat yang layak disisinya.

31 Oktober 2009 15:10
0

semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya

31 Oktober 2009 15:16
0

Puri Loves All,
Selamat jalan dik, We Love Puri. Semoga mendapat tempat terbaik di Sisi_Nya

31 Oktober 2009 15:39
0

Puri, engkau masih bisa mencoba bercanda disaat engkau begitu menderita. Jarang kutemukan yang seperti ini, kawan. Terasa demikian sulit buat aku membayangkan saat-saat kau tulis tulisan2mu. Banyak orang yang akan putus asa mengalami keadaan sepertimu, tetapi kau masih berusaha mengingatkan sesamamu untuk berhati-hati menjaga diri, khususnya terhadap Kanker Payudara ini. Pesan terakhirmu ini tak akan pernah sia-sia. Aku mendengarkanmu, Puri, dan akan meneruskan pesanmu kepada keluarga dan kerabatku. Terima Kasih untuk itu. Hari ini aku juga mengenang tanteku yang meninggal karena Kanker Payu Dara beberapa tahun yang lalu. Sebelum meninggal, dia berusaha mengumpulkan semua orang yang pernah dikenalnya. Dijabatnya semua tangan orang-orang tersebut dan dia meminta maaf satu persatu kepada semuanya, akan semua kesalahan yang mungkin pernah diperbuatnya, hanya sehari sebelum dia meninggal. Saya tak sampai hati melihat kondisinya yang terakhir di stadium 4, persis seperti yang kau ceritakan, Puri. Sekarang Tuhan telah bersama kalian semua. Damailah kalian berdua di sisi Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Doaku menyertai kalian selalu.

31 Oktober 2009 15:46
1

Ada juga kisah yang mirip dengan puri, istri kawan saya yang harus berjuang selama beberapa tahun melawan kanker stadium 4.
Penuh ketabahan dan di bulan-bulan terakhir kelihatan sekali cintanya kepada keluarga. Pertemuan saya terakhir di rumahnya di Tangerang dan saat meninggal di kediamannya di Jombang.

Saya sudah pernah tuliskan di Kompasiana tepat di hari meninggalnya dengan judul Akhir Perjuangan Sahabat Menghadapi Kanker Stadium 4 dan alamatnya disini http://umum.kompasiana.com/2009/07/01/akhir-perjuangan-sahabat-menghadapi-kanker-stadium-4/

eka
31 Oktober 2009 16:27
0

Semoga semangatnya dapat menginspirasi dan memotivasi kompasianers dan pembaca tulisan Puri. Semoga Puri mendapat tempat yang layak disisi-Nya.Amin.

Selamat jalan Puri…

31 Oktober 2009 16:28
0

Keluarga Puri yang ditinggalkan akan memperoleh penghiburan amat luar biasa dari hasil ide Dr Anugra dan kang Pepih. Saya siap menyumbang tulisan.

31 Oktober 2009 17:31
0

Terima kasih Kang Pepih atas supportnya buat mendukung tulisan2 Puri, Terima kasih Dr.Anugra atas informasinya, terima kasih Mbak Rosiy yang telah jeli menulis tentang postingan pertama tentang Puri, yang membuat saya menjadi lebih dekat dengan Puri.
Semoga Allah menerima segala amal ibadah Puri untuk menceriakan kita di Kompasiana, saya sangat berduka sekali..

31 Oktober 2009 18:59
0

Saya justru baru mengetahu Puri setelah dia tiada,tapi tidak berarti saya tidak mengenal dia. Saya mengenal dia baru hari ini saja lewat tulisan2x dia dan juga lewat cinta dan kasih yang sudah dia sebarkan dan tanam didalam hati teman2xnya khususnya lewat Kompasiana ini. Saya malahan merasakan setiap kali menulis komentar tentang dia, dia sedang tersenyum kepada saya meski saya sama sekali tidak pernah melihat dia sebelumnya.
Satu hal yang bisa saya rasakan adalah ketenangan dan kepasrahan yang dia hadapi saat maut menjemputnya karena terbukti dia masih menulis dan bercanda beberapa hari sebelum meninggal. Sungguh suatu hal yang luar biasa bagi saya pribadi. Semoga dia beristirahat dengan damai dan tenang diatas sana dan Tuhan memberinya penghidupan yang kekal dan abadi, AMin.

Selamat jalan, Puri….

Menanggapi usul Pak Anugra, maka sekiranya nanti buku itu jadi diterbitkan maka hasilnya mungkin bisa disalurkan kepada para penderita kanker seperti Puri yang membutuhkan biaya pengobatan. Saya yakin Puri setuju dengan usul saya:)

Salam Kang Pepih:)

31 Oktober 2009 19:13
0

Kang Pepih. Sedang saya gali kembali memori-memeori masa kecil di tonggak perjalanan yang pernah saya tempuh. Lantaran apa yang dialami Dik Puri, juga pernah dialami ibu kandung saya. Kala saya usia 9 tahun, ibunda menghadap ke hadirat-nya juga karena penyakit kanker payudara. Saya sendiri tidak pernah melihat wajah ibunda di hari akhir hidupnya. Saat itu saya di Jakarta bersama ayah, sementara ibunda di Klaten Jawa Tengah. Dan tiba di Klaten setelah satu hari pemakamannya –transportasi tahun 1970-an tidak secanggih saat ini.

Mudah-mudahan bisa terangkai serpihan memori masa kecil itu, dan bisa jadi tulisan persembahan buat Dik Puri….

31 Oktober 2009 21:02
0

Saya baru tahu Puri sesudah dia pergi. Tapi dari tulisan-2 yang dia tinggalkan, saya merasa kagum atas ketegaran dia selama dia sakit, masih bisa bercanda riang tanpa beban. Saya jadi belajar dari ketegarannya itu. Selamat jalan Puri, seperti kata Kang Unang, pada saatnya nanti kita bertemu. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, pemilik kehidupan.

31 Oktober 2009 21:39
0

Selamat jalan Puri…
Selamat jalan adik tercinta….
Engkau akan tetap kami kenang….
Namamu akan tetap abadi di hati kami…

31 Oktober 2009 22:14
0

Innalilahi wa innalillahi rojiun. Kematian adalah berakhirnya segala kemungkinan. Tapi kang Pep, dan tentu kita semua, bisa membangun kembali kemungkinan demi kemungkinan itu. Saya dukung usulan ini. Mari menulis buat Puri…..

1 November 2009 01:21
0
1 November 2009 03:00
0

Selamat jalan adik Puri. :(

1 November 2009 06:18
0

Kehadiranmu yang sangat singkat… sungguh telah memberi arti tidak hanya di Kompasiana tetapi juga dalam diriku…

Selamat jalan sahabat….

http://new-media.kompasiana.com/2009/10/31/puri-karenamu-kini-aku-sadari-hatiku-begitu-rapuh-in-memoriam-to-puri/

1 November 2009 07:17
0

Maaf Kang…kan ada tuh blogna neng Puri di http://ceritapuri.blogspot.com. bagaimana kalau artikel dari blogna kita masukkan juga (tetapi mungkin harus minta izin ke pihak keluarga ya?).
tyuz saia sendiri sdh menulis artikel ttng puri di http://umum.kompasiana.com/2009/10/31/ternyata-keceriaannya-mengalahkan kanker/. Kalau ada kesempatan silahkan dibaca. Moga2 bisa jadi penyemangat baru penepis keputusasaan.

1 November 2009 07:26
0

Maaf…sepertinya linkku salah. hehehe. jadi malu. ini yang asli>> http://umum.kompasiana.com/2009/10/31/ternyata-keceriaannya-mengalahkan-kanker/

1 November 2009 08:12
0

ternyata dunia ini tidak yang negatif melulu seperti yang menjadi opini di media. ada dokter cabul, ada jaksa nakal, ada dpr suap, ada mahasiswa tawuran. banyak lho yang luhur berbudi seperti dokter n ugraha dan kang pepiih. semangat puri, semangat dokter nugraha, semangat pepih dan semangat semua anggota kompasiana itu kita tularkan ke masyarakat untuk membuat banyak manusiai lebih merasakan bahagia

1 November 2009 09:26
0

Bisa jadi, mereka penderita kanker yang masih sanggup berdiri, berjalan, dan tertawa-tawa, tetapi merasa dirinya sudah menjadi “setengah mayat” karena pintu kematian sudah terbuka lebar-lebar…….aku suka dengan kalimat ini …..karena aku berada di episode ini …..tapi setiap bangun pagi 2 hal pertama yg ku lakukan….bersyukur karena masih bangun pagi yg kedua menyemangati diri sendiri bahwah hari ini harus diisi dengan sesuatu yg bermanfaat dan tersenyum……itu vitaminku

1 November 2009 | 15:12
0

Ibu Christina, salam kenal dari saya…

tetap semangat ya bu, selalu berpikiran positif untuk semua yang telah dan akan diberikan Tuhan. pasti ada hikmah di setiap kejadian Bu… kata satu orang teman saya, Tuhan tidak pernah iseng…

saya doakan, semoga ibu diberi keajaiban kesembuhan. Kita satu keluarga besar disini bu, banyak teman2 disini yang mengharapkan kesembuhan ibu, dan salahsatunya saya.
semangat yaaaa
:) salam, Hadi

1 November 2009 | 16:34
0

Ibu Christina yang kuat dan tabah ya…. episode ini pernah dialami Ibunda tercinta saya, yang kemudian meninggal pada 20 Oktober 1999 lalu. Ibu Christina, tetaplah semangat dan merasakan betapa detik demi detik yang berlalu itu begitu indah!

1 November 2009 | 18:03
0

Semangat Bu Christina ^_^

1 November 2009 11:51
0

Begini kang…jangan sampai cita cita ini hanya sebatas hayalan belaka dan tidak terealisasikan. Biasanya kan karena panas panasnya suasana sampai semuanya bersemangat untuk membuat cerita tentang Puri ini…tetapi saat suasananya sudah dingin…Y..Puri pun ikut dingin alias dilupakan. Maaf sebelumnya ya..Maksud saya baik lho ^

1 November 2009 | 16:32
0

Saya upayakan mengemasnya menjadi sebuah buku, Pak…. royaltinya kita serahkan pada keluarga yang ditinggalkan, bukunya dijadikan sebagai kenang-kenangan dan monumen kebaikan (sharing) buat sesama!

1 November 2009 22:24
0

Kang….saya pingin menulis untuk menghormati Puri. Cuman mohon maaf saya nggak mampu…takuut, Bu Roy udah 3 kali operasi “kecil” di payudaranya. Ngeri, apalagi rumor orang-orang tua “menasihati” bila kangker kena pisau bedah….jadi “ganas”…dan tumbuh-tumbuh terus.
Semoga aja tidak

SALAM KOMPASIANA

8 November 2009 19:42
0

Kang Pepih,
sebagai penghormatan sy untuk Puri, dan untuk semangat yang tidak pernah padam dalam menjalani:

http://umum.kompasiana.com/2009/11/08/merendahmu/

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Copyright 2008 - 2010