Naluri saya kalau bepergian kemanapun, selagi sedang tidak mengemudikan kendaraan, saya biasanya buka-buka ponsel internet untuk membaca Kompasiana. Jika ada yang perlu saya betulkan, saya segera membetulkannya. Saya baru saja tiba di Ciawi, Tasikmalaya, 300 kilometer timur Jakarta, saat saya pergi ke warnet persis di kediaman saya. Tidak ada niat lain selain membuka Kompasiana, sedangkan saya berada di desa tempat saya dilahirkan lebih 44 tahun lalu itu untuk nyekar ke makam almarhumah Ibu.
Setelah menyalakan komputer dan menulis http://kompasiana.com, saya masuk ke panel (dashboard) dan melihat pesan dari sahabat saya sesama Kompasianer, dr Anugra Martyanto, dokter Kompasianer yang tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah. Begini bunyi suratnya:
Assalamualaukum Kang Pepih,
Kang saya baru saja menyebarkan ke sebagian teman teman kompasianer mengenai berita duka cita, atas meninggalnya adik kita, adik Puri yang tulisannya menceritakan semangatnya melawan penyakit kanker payudaranya.
Mohon, kiranya bisa nggak ya…, artikel artikel yang sempat dipostingkannya itu dijadikan sebuah buku semacam kumpulan testimoni atau apalah, agar bisa kita bagikan kepada semua kompasianer yang mencintainya, walau belum lama menjadi anggota/kompasianer namun sudah memberikan arti tersendiri buat kami semua di Kompasiana ini.
Saya secara pribadi bersedia menjadi sponsor sebagian pendanaannya, tak ada maksud lain dari saya, ini hanya saya tujukan buat mengenang semangat dan kebaikan adik kita ini, dan kalau ada hasil dari buku ini, mungkin bisa disumbangkan kepada keluarganya di Jogyakarta, paling tidak bisa menjadi kenang-kenangan tersendiri dari kita kompasianer Kompasiana yang begitu sayang dan peduli kepada adik Puri ini, yang bisa di persembahkan di hari hari terakhirnya dikehidupannya yang begitu singkat buat keluarganya, pelaksanaan teknisnya saya yakin Kang pepih lebih memahaminya.
Punteun ya kang, bukannya saya mau merepotkan kakang, karena saya sadar sudah banyak kegiatan kakang di kantor, namun ini semua disebabkan oleh tergugahnya akan rasa empati saya, karena hal ini sering saya rasakan betapa sedihnya saya bila melihat pasien pasien saya harus meninggal akibat penyakit kankernya.
Saya tunggu ya kang, kalau hal ini bisa memungkinkan, sungguh ini akan bisa mengobati kesedihan yang mendalam buat saya pribadi atas terlalu seringnya saya berhadapan dengan kematian pasien pasien saya seperti yang dialamai adik kita Puri ini.
Salam Hormat dari saya, Anugra Martyanto, di Purwokerto
Saya tertegun membacanya. Pertama, saya agak sedikit tidak percaya adik kita, Kompasianer bernama lengkap Puriwati Purasari Andono, yang memiliki blog sendiri di Kompasiana bernama Ceritapuri (lihat http://kompasiana.com/ceritapuri). Rasanya, baru saja kemarin pagi saya membaca postingan terakhirnya SUSI, Susu Siji*. Sebuah postingan yang well… benar-benar menyentuh, bercerita secara kelakar tentang stigma atau cap yang diterakan kepada penderita kanker payudara, dimana sebelah payudaranya telah diangkat (susu siji). Puri menceritakan kisahnya dengan polos, tetapi pesannya kuat, mengajak penderita lainnya yang serupa dengannya untuk tetap tabah, gembira, dan ini….. berbagi!
Kedua, saya tak habis pikir, di zaman yang semakin terfokus pada kepentingan diri sendiri dan tak peduli pada urusan (apalagi derita) orang lain, masih ada orang seperti dokter Anugra, yang di tengah kesibukannya, tetap berkirim surat kepada saya, menulis artikel tentang kepergian Puri, terlebih lagi…. terpikir olehnya untuk membukukan kisah Puri sesuai nama blognya, Ceritapuri. Ya, cerita Puri yang dibukukan! Bahkan yang saya tangkap, dokter Anugra mau membiayai sebagian penerbitan buku itu. Luar biasa!
Saya sebagai admin, bukan karena terenyuh atau jatuh kasihan kalau berniat menolah Ceritapuri ini sebagai buku, sebagaimana yang dokter Anugra minta. Lebih karena, saya harus meneruskan semangat Puri dalam berbagi… berbagi sesuatu yang bermanfaat, memompa semangat, tidak mudah loyo dan lembek hanya karena didera penyakit berat… Sesuatu yang jarang dilakukan seorang seperti Puri, yang biasanya “habis”, apatis, lalu terpurukkarena semangat sudah terkikis. Tetapi, Puri tidak!
Postingan Puri belumlah banyak di Kompasiana ini, setidak-tidaknya ada lima artikel. Jika ditambah dengan komentar yang dituai, tentu belum cukup untuk dibuatkan sebuah buku. Tetapi, bukankah kita, termasuk saya, diberi akal oleh Allah yang senantiasa harus dipergunakan setiap saat jika diperlukan, apalagi bagi kepentingan kemanusiaan.
Lantas apa yang bisa kita lakukan? Apa yang bisa para Kompasianer lakukan?
Menulis mengenai kisah Puri di Kompasiana!!!
Tulisan Anda, para Kompasianer, akan menjadi kumpulan cerita menarik yang memberi semangat. Bukan kepada Puri yang sudah berada di sisi-Nya dengan tenang, tetapi kepada orang-orang yang senasib dengan Puri, mereka yang menderita kanker, apapun jenisnya, yang saat ini tengah tergolek, terbaring dalam keputusasaan. Bisa jadi, mereka penderita kanker yang masih sanggup berdiri, berjalan, dan tertawa-tawa, tetapi merasa dirinya sudah menjadi “setengah mayat” karena pintu kematian sudah terbuka lebar-lebar.
Dengan cara menulis, menyemangati para penderita kanker, Insya Allah akan menjadi penguat penderita untuk sembuh, dan tetap semangat menjalani kehidupannya. Penderita kanker butuh teman, buruh semangat. Kematian akan terasa semakin cepat datang jika mereka merasa ditinggal pergi, merasa tidak lagi berguna sebagai manusia, sebagai sahabat!
Mari, kumpulkan di Kompasiana ini kenangan atau cerita apapun tentang Puri yang bisa ditambahkan dengan lima postingan Puri sendiri, siapa tahu penerbit berminat mengumpulkan kisah Anda semua, kisah yang kelak akan menjadi semangat bagi siapapun!
***
Postingan ini ditulis di Ciawi beberapa menit lalu, di sebuah desa kecil di Tasikmalaya, dipostingkan seusai nyekar di makam almarhumah Ibu, yang persis pada 10 tahun lalu (20 Oktober 1999) “pergi” akibat penyakit kanker mulut rahim.
Bisnis kuliner menjamur dimana-mana. Bila Anda pernah menikmati hidangan atau masakan yang unik atau pernah
