

Untuk kesekian kalinya air mata ini tak dapat dibendung lagi, ya…saya menangis dan menangis, begitu mendengar khabar atas kepergian ke pangkuan Sang Khaliq di surga yang abadi, dengan meninggalnya adik kita adik Puri yang bernama lengkap Puriwati Purasari Andono.
Memang saya akui saya adalah typical pria yang cengeng, entah mungkin inilah kelamahan saya dan saya tak malu mengakui ini semua, karena menangis adalah bukan sesuatu yang salah, karena menangis ini sengaja Allah ciptakan sebagai obat buat hambanya, yang memang sangat lemah…
Mengapa saya menangis?, disamping rasa sedih yang sangat mendalam atas kepergian adik kita, adik Puri yang baru saja bergabung di Kompasiana ini dengan sedikit goresan tulisannya yang sangat bersemangat melawan penderitaan sakitnya melawan kanker payudara di usianya yang sangat belia sekali.
Saya sangat malu terhadap adik Puri ini, yang berperan sebagai penderita kanker, namun begitu semangatnya melawan kanker, tapi saya……., selaku dokter yang bertepatan sebagai ahli kanker, selalu saja tak memiliki kekuatan yang begitu dahyat seperti pasien pasein saya di hari hari akhir kehidupan mereka, seperti adik Puri ini.
Hal ini dikarenakan saya tahu persis perjalanan penyakit yang mematikan ini, walau dioperasi sekalipun tapi harapan hidupnya bisa saya prediksi bagi yang sudah masuk stadium lanjut.
Lalu apa peran saya sebagai dokter yang ikut merawat penyakit mereka…?
Tak lain dan tak bukan hanya sebagai pendamping saja, karena kesembuhan itu hanya milik Allah, karena ini semua masih menjadi milikNya, sekalipun kami para dokter ahli Kanker terus belajar dan belajar mencari atas jawaban dan menyikap rahasia besar ini.
Saya pribadi sering merasa tidak ada gunanya saya menjadi dokter ahli kanker bila sebagian pasien pasien saya selalu saja menemui ajalnya, tanpa ada kemampuan untuk membantu kesembuhannya.
Mungkin rasa penyesalan dan rasa tak berguna serta rasa bersalah inilah yang selalu membuat saya larut dalam sebuah kesedihan yang selalu menjadi warna disetiap keseharian saya dalam melayani semua pasien pasien kanker ini.
Kadang saya selalu meneriakkan kejengkelan ini dengan memberanikan diri mengibarkan bendera perang kepada sang Khaliq selama melakukan operasi di meja operasi, seraya sering berucap,” Baik Tuhan Allah…, kali ini saya akan mendurhakaiMu, saya akan melawan kuasaMu diatas meja Operasi ini, karena saya tidak mau Engkau menjadi pemenangnya yang selalu mengambil semua pasien pasienku”.
Itulah sebuah ‘kesombongan’ yang pernah dan sering saya lakukan disetiap saya memasuki kamar operasi, saat saya melakukan tugas operasi bagi pasien pasien yang menderita penyakit kanker ini.
Tapi apa hasilnya…???, saya selalu kalah dan kalah, saya hanya bisa meratapi semuanya dengan tetesan air mata, bila akhirnya pasien saya ini meninggal, saya sadari, begitu sombongnya saya yang ingin melawan “Sang Pemilik Hidup” dengan mengibarkan bendera perang, Sangat durhaka sekali, walaupun saya tak yakin akankah Tuhan masih mau menerima ‘Tobatku’ ini atas semua kesombongan ini.
“Ya Allah yang Maha Agung, ampunilah semua dosa dan kesalahan yang dengan sengaja aku lakukan ini, hukumlah aku bila ini tak terampuni, tapi jangan Kau tumpahkan kemarahanMu kepada semua pasien-pasienku atas semua kesombonganku ini dengan membuktikan Kebesaran dan KuasaMu atas semua pembuktian bahwa memang aku ini sangat kecil dihadapanMu, seukuran sebuah sel-pun masih terlalu besar buatku, bila aku dibandingkan denganMu, maka aku memohon ampun yaa… Allah Tuhanku atas semua ini”.
Setiap kejadian akan sebuah kematian dari pasein pasienku, selalu saja saya teringat semua pasien pasienku yang telah tiada, antara lain pasien cilikku yang bernama Asrtid Gracia, yang juga meninggal akibat kanker ganas di tulang sikunya.
Maka sekedar mengenang gadis kecil dan malaikatku ini Astrid Gracia, saya akan memuat kembali puisi terakhirnya dihari hari terakhir kehidupannya. Dan Puisi ini juga saya hadiahkan buat adikku tersayang Puriwati Purasari Andono (Puri).
Ini Tulisan Puisinya :
“Aku meminta, TUHAN menjawab”
Aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan penderitaanku, Tuhan menjawab TIDAK, itu bukan untuk Ku singkirkan, tetapi agar engkau mengalahkannya.
Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadirkan kesabaranku, Tuhan menjawab TIDAK, kesabaran adalah hasil dari kesulitan, itu tidak Ku hadiahkan, itu dipelajari.
Aku meminta kepada Tuhan untuk memberiku kebagiaan, Tuhan menjawab TIDAK, Aku memberimu berkah, kebahagiaan adalah tergantung padamu.
Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkanku dari penderitaan, Tuhan menjawab TIDAK, penderitaan itu menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat kepada Ku.
Aku meminta kepada Tuhan untuk menumbuhkan Imanku, Tuhan menjawab TIDAK, kau harus menumbuhkan sendiri, tetapi Aku akan memangkas dan merapikannya untuk membuatmu berubah.
Aku meminta kepada Tuhan untuk memberiku segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup, Tuhan menjawab TIDAK, Aku akan memberimu HIDUP sehingga kau dapat menikmati segala hal.
Aku meminta kepada Tuhan untuk dapat membantuku mengasihi orang lain seperti Tuhan mengasihiku, Tuhan menjawab YA, akhirnya kau bisa mengerti…….
Teruntuk Mamaku Friska, Papaku Frans dan Dokterku dan Ayahku dr. Anugra Martyanto.
dari Astrid Gracia, akhir Maret 2009.
Semoga saja tulisan ini bisa mengobati kesedihanku ini dan kesedihan kita semua atas kepergian adik kita tercinta adik Puriwati Purasari Andono (Puri) yang selalu menebarkan semangat dan keceriaannya di semua Tulisannya yang ada, yang sangat indah seindah ‘Pelangi’ di hati adik Puri.
Selamat jalan adikku…, menuju rumah barumu yang baru ‘Istana Indah’ yang sudah Allah siapkan buatmu di Surga yang abadi.
Semua goresan manis dan indah seindah ‘pelangi di hatimu’ akan tetap kami kenang selamanya…
Selamat jalan adik Puri…
Salam dari kami, Anugra Martyanto, di Purwokerto.
Tags: pelangi dihati Puri, Puri

Tetap berusaha yang terbaik Dok, kita beruntung berkenalan dengan seorang Puri dan Astrid Gracia walau hanya melalui tulisan-tulisan di Kompasiana. Semangat dok semangat!
+1
-1
Salam buat Mbak Rosiy,
Terima kasih ya mbak, betul sekali kita semua di Kompasiana ini masih bisa mengenal sosok yang sangat baik dari adik kita ini, sungguh bukan sebuah kebetulan, namun Allah yang punya rencana semuanya.
Salam dari kami, Anugra Martyanto.
+1
-1

Mereka dikirim DIA untuk kita, dengan semangat menyala dan aroma religi yang mempesona…
Beruntunglah kita sempat mengenal mereka, meski hanya lewat Kompasiana…
+1
-1
Salam buat Uniku yang baik, Uni Linda Djalil,
Terima kasih, betul sekali semoga semangat yang ditularkan adik Puri ini bisa membuat kita juga bersemangat dalam menghadapi semua cobaanNya, karena setiap hambanya InsyaAllah akan lulus menghadapi setiap cobaanNya, namun banyak yang gagal menghadapi NikmatNya.
Salam dari kami, Anugra Martyanto
+1
-1

Turut berdukacita atas wafatnya adik kita Puriwati Purasari Andono (Puri) semoga Allah swt memberi kemudahan dan kelapangan dalam perjalanan kembali ke sang Khalik dan yang ditinggal diberi ketabahan dan keimanan yang lebih kuat …. dan semoga Allah swt senantiasa memberi Pak Anugra kekuatan dan kemudahan untuk menolong sesamanya…. amin.
+1
-1
Salam buat Bapak Slamet Rahardjo,
Terima kasih bapak, iya semoga do’a kita semua dapat mengiring kepergian adik Puri ini menuju rumah barunya di Istana Surga yang agung disisi Allah SWT.
Salam dari kami, Anugra Martyanto
+1
-1

Salam Bapak dr. Anugra….
Mereka dikenalkan kepada kita semua sebagai pengingat akan kebesaranNya….kita akan banyak belajar dari ketabahan dan kebesaran semangatnya.
Saya sendri beberapa hari lalu mendapatkan cerita dari guru saya di Mesir tentang perjuangan seorang ayah yang melawan ganasnya kangker paru-paru yang dideritanya sementara ia harus berjuang juga untuk menghidupi keluarganya.
Catatannya tadi saya publikasikan kembali dengan judul : “Cerita Untuk Puri : “Rumahku di Surga Dek”…
Salam kenal dan hangatnya persahabatan dari Kairo
Bisyri
+1
-1
Salam buat adik Bisyri Ichwan,
Terima kasih ya dik, saya juga sudah membaca tulisan artikel adik, sungguh sangat menyentuh hati dan saya sangat terharu sekali, dan semoga semua do’a kita dapat mengiringi kepergian adik Puri menuju rumah barunya di Istana Surga milik Allah SWT.
Salam dari kami, Anugra Martyanto.
+1
-1

Puisi yang sangat indah.
Semoga adik Puri diterima di sis-Nya.
Selamat jalan, kami semua mencintaimua…
+1
-1
Salam buat adik Balantina,
Iya sebuah puisi yang sangat bagus dari salah satu pasien cilik saya yang bernama Astrid Gracia berusia 12 tahun, dan sudah kembali ke Surga Allah.
Terima kasih dan salam dari kami, Anugra Martyanto.
+1
-1

Puisi Alm. Astrid begitu menyentuh … semoga Adik Astrid dan Puri damai di sana … Boleh saya share puisinya Dok?
+1
-1
Terima kasih Mbak Tantri, sayapun pasti menitikkan air mata setiap membaca puisi Astrid ini…
Silahkan saja mbak, memang sengaja saya bagikan kepada semua yang membaca puisi ini, semoga selalu mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT.
Salam dari kami, Anugra Martyanto.
+1
-1

Puisinya bukan saja sangat indah, tetapi merupakan cermin dan refleksi dari keimanan yang sangat dalam.Terimakasih Adik Gracia, semoga jiwamu tenang diatas sana.
Selamat jalan buat Puri. Meski baru tahu tentang Puri setelah dia tiada, namun semangat dan cintanya bisa saya rasakan terutama melalui teman2x Puri disini. Semoga Tuhan memberimu kehidupan yang abadi dan jiwamu beristirahat dalam damai. Saya merasakan Puri sedang tersenyum ketika saya menulis komentar ini meski saya tidak pernah mengenal dia sebelumnya.
Terimakasih atas renungannya, Pak Anugra
+1
-1
Terima kasih adik Inge,
Sungguh berbahagia anak anak kita (Adik Astrid Gracia dan Adik Puri) yang sudah berada di dalam kerajaan Surga Allah, dalam kasih dan kedamaian abadi di kehidupan kekal buat mereka berdua…
Salam dari kami, Anugra Martyanto.
+1
-1

Pak Dr. tulisan Astrid itu saya udah sempat baca saat settingan Kompasiana yang dulu, saya sempat menangis membaca tulisan itu.
Dan sore ini, saat saya malas2 bukan buka kompi (pengen rileks, takut stress karena urusan kantor dan kuliah), saya terkejut sekali mendapat berita dari Pak Dr, kabar kematian adik Puri.
Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun…saya terhenyak, begitu singkatnya kita mengenal Puri.. Waktu yang teramat singkat, membuat kita sudah terasa sangat dekat.
Terima kasih info ya Pak dr.
+1
-1
Salam buat Adik Andriani,
Sungguh sebuah pelajaran hidup yang saya dan kita semua dapatkan dari dua gadis hebat ini dalam menghadapi dan menjalani sebuah percobaan hidup berkaitan dengan sakitnya berupa kanker yang merenggut kebahagian masa kanak kanak mereka, tapi inilah rahasia Sang Pemilik Hidup, pasti ada hikmah dibalik semua ini.
Terima kasih ya dik dan salam dari kami, Anugra Martyanto.
+1
-1

Mas Anugra. Beberapa posting Dik Puri di Kompasiana ini sebelumnya telah saya baca –termasuk posting penyemangat dari Mbak Rosiy. Saya sengaja tidak berkomentar, karena membaca postingan2 itu rasanya saya berada dalam pusaran yang diunkapkan itu. Ada kenangan kesedihan pada diri saya sendiri, lantaran apa yang diungkapkan Dik Puri terutama posting “Susi: Susu Siji” pernah dialami ibu kandung saya. Yang juga jiwanya terenggut manakala saya masih kecil.
Soal-soal kanker payudara yang dialami ibu kandung tersebut, masih jelas terekam dalam memori. Ah, seandainya Ibu dulu mau dioperasi saat masih terdeteksi dini dan sebelum kankernya menyebar ke seluruh tubuhnya barangkali akan lain ceritanya… Terbayang-bayang hingga saya tak mampu membuat komen atas posting yang ditulis Dik Puri.
+1
-1
Salam buat mas Dwiki,
Sungguh saya juga turut ikut perihatin dengan keadaan Ibunda-nya mas Dwiki, yang juga menderita kanker payudara, apalagi keadaan itu dialami saat mas Dwiki masih kanak kanak.
Terima kasih ya mas Dwiki, sudah mau berbagi di sini, sungguh ini kenangan yang tak mudah pupus di benak dan hati kita, terhadap orang orang yang kita kasihi.
Salam dari kami, Anugra Martyanto.
+1
-1

Selama ini, saya selalu berdoa, “Tuhan, tolong berikan saya kesabaran.”
Tapi saya tidak juga jadi orang penyabar.
Setelah saya baca bait kedua puisi Astrid di atas, saya baru sadar, selama ini saya salah berdoa. Mestinya saya berdoa, “Tuhan, tolong bimbing saya untuk belajar bersabar..”
+1
-1
Iya betul sekali adik Vicky, selama ini saya juga berdoa demikian, dengan meminta diberi kesabaran dalam segala hal, namun saya telah menyadari dari bait kedua puisinya Adik Astrid ini, sungguh sebuah pelajaran yang saya dapatkan dari pemahaman yang mendalam dari seorang anak cerdas dan beriman yang berusia 12 tahun ini.
Salam dari kami, Anugra Martyanto
+1
-1

+1
-1
Salam buat Mas Ichwan,
Terima kasih sudah memberikan tulisannya buat adik kita ini, semoga niat untuk melengkapi bukunya segera terwujud, Amin
Salam dan terima kasih, Anugra Martyanto.
+1
-1

Pak DOkter… saya lukis pelangi di artikel saya untuk Puri… selamat jalan untuk Puri…
+1
-1
Salam buat bapak Boy Rachmad,
Iya terima kasih sekali atas artikelnya buat adik kita ini, memang kenangan yang digoreskan pada setiap artikel pasti seindah pelangi itu.
Salam dari kami, Anugra Martyanto
+1
-1

Berita duka tentang mbak Puri mengingatkan saya pada ibunda mertua yang kembali kepada sang Khalik sekitar 3 bulan lalu karena penyakit kanker melanoma yang dideritanya.
Ya Allah, satukan kami dengan orang-orang yang kami cintai kelak dalam syurga-Mu. Amin
Trim’s dok!
+1
-1
Amin,
Terima kasih mas Syarif, saya juga turut perihatin dengan keadaan ibu mertua mas Syarif, sungguh ini semua sudah kehendak Sang Khalik, kita semua yang ditinggalkan hanya bisa Ikhlas dan memanjatkan doa buat orang orang yang kita cintai.
Salam dari Kami, Anugra Martyanto.
+1
-1

Dokter Anugra Martyanto adalah sosok dokter yang terbaik yang pernah saya kenal!
tetap semangat dok!!!
+1
-1
Salam buat adikku Fawaizzah yang manis,
Terima kasih ya dik, tapi saya juga manusia biasa yang masih banyak kekhilafan disana sini, dan saya yakin masih banyak dokter lain yang juga berhati mulya dengan dedikasi yang tinggi buat sesama, begitupun teman, sahabat dan saudara kita lainnya.
Salam dan terima kasih buat adikku Fawaizah dari kami, Anugra Martyanto.
+1
-1

Dokter, sungguh mengharukan perasaan yang musti anda alami menyaksikan “kematian” pasien anda, terutama. Dokter, anda diutus ke alam dunia ini membawa mission. mission khas anda. Hebat ya ? Sudah banyak pasien anda dan keluarganya yang bersyukur kepadaNya……….dan berterimakasih kepada anda, mereka disembuhkan-Nya. Dari sebuah buku saya mendapat jawaban tentang “kematian”, mati adalah bagian dari pada kehidupan. Hebat, mati adalah bagian dari pada kehidupan. Saya mempunyai sahabat muda seorang mahasiswi kedokteran. Perkenalan dimulai di dalam suatu perjalanan, saya memberikan petunjuk metode mengatasi kekurangannya, tidak bisa mengucapkan “R”. Beberapa bulan kemudian ia menelpun : Ayah, sekarang saya bisa mengucapkan “TAARRRMIZI”. Syukur. Beberapa bulan kemudian, setelah lama sekali tidak berhubungan berita. Anak kedokteran itu mengabarkan, bahwa ia telah mengalami berkali-kali operasi di lambungnya. Tentu sebagai manusia ia pun bisa merasakan “rasa sakit”, sakit sekali—saya pun bisa merasakan penderitaannya itu. Ia pamit untuk berobat ke Penang, mohon didoakan. Saya harus mengatakan apa untuk menghibur dan menguatkan semangatnya? Ia seorang calon dokter. Saya katakan “Wida bersyukurlah, tidak semua dokter mengalami praktek merasakan rasa sakit. Wida mengalaminya, itu tambahan pelajaran dari-Nya untukmu, anak-ku yang calon dokter.”
+1
-1
Assalamualaikum, bapak Muhammad Wislan Arif,
Aduh sungguh sebuah pelajaran berharga yang bapak sampaikan kepada saya, betul sekali dan dapat saya raba dan rasakan seperti apa yang dirasakan adik Wida mahasiawa kedokteran ini (calon dokter) yang juga mengalami sendiri kondisi sakitnya.
Sungguh empati saya buat adik, anak dan calon dokter ini yang langsung mendapatkan pelajaran dari Allah akan sebuah pelajaran tambahan dalam menjalani sakitnya ini.
Terima kasih bapak Arif, atas masukan yang sangat berharga ini, saya turut mendoakan agar adik Wida dapat tabah menjalani semuanya, dan cepat memperoleh kesembuhannya, Amin.
Salam dari kami, Anugra Martyanto
+1
-1

Terima kasih Mas Anugra…refleksi yang mencerahkan…..
Membaca tulisan ini membuat saya tertarik untuk menyelami dua pribadi sekaligus yaitu anda sendiri dan almarhumah adik kita Puri…
Selamat jalan Puri…sampai bertemu di tempat yang lebih baik bagi kita semua…
+1
-1
Guest User