Kompasiana
Sabtu, 04 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Ayahnya Asti

Saya seorang praktisi dibidang pelayanan kesehatan (medis) yang saat ini tengah membina sarana pelayanan Independen di kawasan desa Rempoah, Baturraden, Banyumas Jawa Tengah, mempunyai obsesi ingin memajukan mutu pelayanan terdepan bagi semua lapisan Masyarakat tanpa kecuali, mengingat keprihatinan saat ini dengan pelayanan medis yang semakin sulit dijangkau oleh masyarakat kecil pada umumnya, saya juga mendedikasikan diri saya didunia pendidikan sebagai pengajar di beberapa institusi pendidikan kesehatan di kota tempat saya bekerja dan kota/negara lain, juga sebagai Konseling dan Motivator di...

Air Mata Kami Mengiringi Kepergian Adik Puri dan Ada Pelangi Dihati Adik Puri

OPINI | 31 October 2009 | 13:36 1384 32 4 dari 4 Kompasianer menilai Inspiratif

Puriwati Purasari Andono (Puri)

Puriwati Purasari Andono (Puri)

Untuk kesekian kalinya air mata ini tak dapat dibendung lagi, ya…saya menangis dan menangis, begitu mendengar khabar atas kepergian ke pangkuan Sang Khaliq di surga yang abadi, dengan meninggalnya adik kita adik Puri yang bernama lengkap Puriwati Purasari Andono.

Memang saya akui saya adalah typical pria yang cengeng, entah mungkin inilah kelamahan saya dan saya tak malu mengakui ini semua, karena menangis adalah bukan sesuatu yang salah, karena menangis ini sengaja Allah ciptakan sebagai obat buat hambanya, yang memang sangat lemah…

Mengapa saya menangis?, disamping rasa sedih yang sangat mendalam atas kepergian adik kita, adik Puri yang baru saja bergabung di Kompasiana ini dengan sedikit goresan tulisannya yang sangat bersemangat melawan penderitaan sakitnya melawan kanker payudara di usianya yang sangat belia sekali.

Saya sangat malu terhadap adik Puri ini, yang berperan sebagai penderita kanker, namun begitu semangatnya melawan kanker, tapi saya……., selaku dokter yang bertepatan sebagai ahli kanker, selalu saja tak memiliki kekuatan yang begitu dahyat seperti pasien pasein saya di hari hari akhir kehidupan mereka, seperti adik Puri ini.

Hal ini dikarenakan saya tahu persis perjalanan penyakit yang mematikan ini, walau dioperasi sekalipun tapi harapan hidupnya bisa saya prediksi bagi yang sudah masuk stadium lanjut.

Lalu apa peran saya sebagai dokter yang ikut merawat penyakit mereka…?

Tak lain dan tak bukan hanya sebagai pendamping saja, karena kesembuhan itu hanya milik Allah, karena ini semua masih menjadi milikNya, sekalipun kami para dokter ahli Kanker terus belajar dan belajar mencari atas jawaban dan menyikap rahasia besar ini.

Saya pribadi sering merasa tidak ada gunanya saya menjadi dokter ahli kanker bila sebagian pasien pasien saya selalu saja menemui ajalnya, tanpa ada kemampuan untuk membantu kesembuhannya.

Mungkin rasa penyesalan dan rasa tak berguna serta rasa bersalah inilah yang selalu membuat saya larut dalam sebuah kesedihan yang selalu menjadi warna disetiap keseharian saya dalam melayani semua pasien pasien kanker ini.

Kadang saya selalu meneriakkan kejengkelan ini dengan memberanikan diri mengibarkan bendera perang kepada sang Khaliq selama melakukan operasi di meja operasi, seraya sering berucap,” Baik Tuhan Allah…, kali ini saya akan mendurhakaiMu, saya akan melawan kuasaMu diatas meja Operasi ini, karena saya tidak mau Engkau menjadi pemenangnya yang selalu mengambil semua pasien pasienku”.

Itulah sebuah ‘kesombongan’ yang pernah dan sering saya lakukan disetiap saya memasuki kamar operasi, saat saya melakukan tugas operasi bagi pasien pasien yang menderita penyakit kanker ini.

Tapi apa hasilnya…???, saya selalu kalah dan kalah, saya hanya bisa meratapi semuanya dengan tetesan air mata, bila akhirnya pasien saya ini meninggal, saya sadari, begitu sombongnya saya yang ingin melawan “Sang Pemilik Hidup” dengan mengibarkan bendera perang, Sangat durhaka sekali, walaupun saya tak yakin akankah Tuhan masih mau menerima ‘Tobatku’ ini atas semua kesombongan ini.

“Ya Allah yang Maha Agung, ampunilah semua dosa dan kesalahan yang dengan sengaja aku lakukan ini, hukumlah aku bila ini tak terampuni, tapi jangan Kau tumpahkan kemarahanMu kepada semua pasien-pasienku atas semua kesombonganku ini dengan membuktikan Kebesaran dan KuasaMu atas semua pembuktian bahwa memang aku ini sangat kecil dihadapanMu, seukuran sebuah sel-pun masih terlalu besar buatku, bila aku dibandingkan denganMu, maka aku memohon ampun yaa… Allah Tuhanku atas semua ini”.

Setiap kejadian akan sebuah kematian dari pasein pasienku, selalu saja saya teringat semua pasien pasienku yang telah tiada, antara lain pasien cilikku yang bernama Asrtid Gracia, yang juga meninggal akibat kanker ganas di tulang sikunya.

Maka sekedar mengenang gadis kecil dan malaikatku ini Astrid Gracia, saya akan memuat kembali puisi terakhirnya dihari hari terakhir kehidupannya. Dan Puisi ini juga saya hadiahkan buat adikku tersayang  Puriwati Purasari Andono (Puri).

Ini Tulisan Puisinya :

“Aku meminta, TUHAN menjawab”

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan penderitaanku, Tuhan menjawab TIDAK, itu bukan untuk Ku singkirkan, tetapi agar engkau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadirkan kesabaranku, Tuhan menjawab TIDAK, kesabaran adalah hasil dari kesulitan, itu tidak Ku hadiahkan, itu dipelajari.

Aku meminta kepada Tuhan untuk memberiku kebagiaan, Tuhan menjawab TIDAK, Aku memberimu berkah, kebahagiaan adalah tergantung padamu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkanku dari penderitaan, Tuhan menjawab TIDAK, penderitaan itu menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat kepada Ku.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menumbuhkan Imanku, Tuhan menjawab TIDAK, kau harus menumbuhkan sendiri, tetapi Aku akan memangkas dan merapikannya untuk membuatmu berubah.

Aku meminta kepada Tuhan untuk memberiku segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup, Tuhan menjawab TIDAK, Aku akan memberimu HIDUP sehingga kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta kepada Tuhan untuk dapat membantuku mengasihi orang lain seperti Tuhan mengasihiku, Tuhan menjawab YA, akhirnya kau bisa mengerti…….

Teruntuk Mamaku Friska, Papaku Frans dan Dokterku dan Ayahku dr. Anugra Martyanto.

dari Astrid Gracia, akhir Maret 2009.

Semoga saja tulisan ini bisa mengobati kesedihanku ini dan kesedihan kita semua atas kepergian adik kita tercinta adik Puriwati Purasari Andono (Puri) yang selalu menebarkan semangat dan keceriaannya di semua Tulisannya yang ada, yang sangat indah seindah ‘Pelangi’ di hati adik Puri.

Selamat jalan adikku…, menuju rumah barumu yang baru ‘Istana Indah’ yang sudah Allah siapkan buatmu di Surga yang abadi.

Semua goresan manis dan indah seindah ‘pelangi di hatimu’ akan tetap kami kenang selamanya…

Selamat jalan adik Puri…

Salam dari kami, Anugra Martyanto, di Purwokerto.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


    KULINER UNIK

    Bisnis kuliner menjamur dimana-mana. Bila Anda pernah menikmati hidangan atau masakan yang unik atau pernah


SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012