Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Aha

menulis adalah berpikir.

Yang di Atas Ngeributin Gaji, yang di bawah Rebutan Air

REP | 27 October 2009 | 12:26 245 4 1 dari 1 Kompasianer menilai Biasa

Sukabumi, negeri yang kaya raya sumber daya air, nyatanya tidak serta-merta membuat warganya kecukupan air.  Orang-orang Cidahu dan Cicurug yang berada di kaki Gunung Salak, setiap musim kemarau kekurangan air bersih. Di sisi lain, dari Cidahu dan Cicurug, ribuan liter air minum dalam kemasan diangkut ke Jakarta dan sekitarnya untuk dijual kepada konsumen.

Ini juga cerita yang sama, warga Cimangkok, Kecamatan Sukalarang yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango. Sepanjang musim kemarau, air sumur mereka kosong. Kini, hujan sudah  mulai turun selama seminggu lebih, tetapi sumur-sumur warga belum juga terisi. Mereka masih tetap mengambil air di sebuah sumber yang berada di bawah permukiman warga.

Wajar kalau warga Kampung Panarosan dan Kampung Cimanggu, Desa Cimangkok kekurangan air bersih. Kampung mereka sudah terkepung pertambangan pasir. Penambangan dilakukan hingga kedalaman lebih dari 35 meter di lahan berhektar-hektar. Logikanya sangat sederhana, sumur warga yang hanya 15 meter pasti tak akan terisi air karena air tanah merembes ke tempat yang lebih rendah.

Pertambangan pasir itu masih ada aktif, tetapi ada pula yang sudah mandeg. Kolam-kolam besar bekas pertambangan ditinggalkan begitu saja. Sangat sulit mengharapkan akan ada air bersih di Panarosan dan Cimanggu jika melihat kondisi itu.

Satu-satunya cara adalah mengalirkan air bersih dari sumber yang lebih tinggi ke permukiman mereka. Namun, itu butuh biaya dan masyarakat yang sebagian besar hidup tidak berkecukupan tentu akan sangat sulit menyediakan dana untuk ‘mendatangkan’ air bersih ke permukiman mereka.

Jadi, daripada digunakan untuk menaikkan gaji menteri yang sudah kaya raya itu, uang yang kini diribut-ributkan itu lebih baik disumbangkan untuk warga Panarosan dan Cimanggu. Tak perlu banyak-banyak (untuk ukuran para menteri), Rp 75 juta sudah akan membuat air bersih sampai ke permukiman warga.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012