Artikel

Sosbud

Ayahnya Asti

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Saya seorang praktisi dibidang pelayanan kesehatan (medis) yang saat ini tengah membina sarana pelayanan Independen di kawasan desa Rempoah, Baturraden, Banyumas Jawa Tengah, mempunyai obsesi ingin memajukan mutu pelayanan terdepan bagi semua lapisan Masyarakat tanpa kecuali, mengingat keprihatinan saat ini dengan pelayanan medis yang semakin sulit dijangkau oleh masyarakat kecil pada umumnya, saya juga mendedikasikan diri saya didunia pendidikan sebagai pengajar di beberapa institusi pendidikan kesehatan di kota tempat saya bekerja dan kota/negara lain, juga sebagai Konseling dan Motivator di...

Ketakutan dan Kecemasan


OPINI | 11 April 2009 | 20:50 Dibaca: 927   Komentar: 8   Nihil

Sore itu saat aku sedang menonton siaran berita di televisi, tiba tiba telepon berdering, kulirik jam dinding disedut ruangan menunjukkan pukul 21.00 WIB, dengan sedikit tanda tanya siapa gerangan yang menelepon malam malam begini, segera aku mengangkat gagang telepon itu, terdengar suara di kejauhan, ” Selamat malam, mohon maaf apa betul ini rumah kediaman dokter Anugra ?”.  Spontan aku menjawab,” Ya betul dengan saya sendiri dokter Anugra”, jawabku.  “Maaf dokter, ini dari rumah sakit dengan suster Ira, ingin memberitahukan laporan dari dokter jaga di UGD, ada pasien seorang wanita 19 tahun dengan percobaan bunuh diri “, suster Ira berbicara.  Sesaat aku terdiam dan berkata, ” bagaimana keadaan umumnya suster ?”, tanyaku.  “iya dokter, terdapat luka sayatan pada kedua pergelangan tangannya, menurut dokter jaga terdapat putusnya urat nadi besar, sehingga perdarahannya cukup banyak”, begitu uraian suter Ira.  Dengan tidak berlama lama lagi aku langsung berkata,” Baiklah Suster saya segera kesana malam ini, dan tolong atasi dulu keadaan perdarahannya dengan membalutnya dengan balut tekan, pasang cairan infus dan siapkan beberapa kantung darah untuk transfusi !,” perintahku. ” Baik dokter, akan kami laksanakan dan segera kami persiapkan”, jawab suster Ira.

Dengan cepat aku berangkat membelah kesunyian dan dinginnya angin malam saat itu, dalam benakku aku berpikir, aku harus segera menolong gadis itu, namun terlintas juga pertanyaan, apa gerangan yang membuat gadis ini nekat melakukan tindakan memotong kedua urat nadinya pada kedua pergelangan tangan ini ?, dan tak lama kemudian tibalah aku di ruang unit gawat darurat rumah sakit.  Kuamati keadaan gadis itu, ya…cukup pucat dan lemah, dan duduk disamping kiri tempat tidurnya seorang ibu yang tak henti hentinya menagis, pasti ini ibunya…kupikir. Lalu kusapa dengan hati hati, selamat malam ibu, saya dokter Anugra, yang akan membantu anak ibu, ada apa ini ibu ?, tanyaku mulai menyelidik. “Ini dok, anak saya memotong kedua pergelangan tangannya, setelah bertengkar hebat dengan saya sore tadi, maafkan saya dok, ini semua salah saya “, Ucap ibu ini diiringi tangisnya yang semakin menjadi.  ” Tenang ya bu….., ucapku sambil terus menenangkan ibu ini, ibu berdoa saja semoga semua berjalan dengan lancar dan baik, saya akan menolong anak ibu semampu dan semaksimal yang bisa saya lakukan,” Ucapku dengan sangat perlahan.

Akhirnya aku perintahkan Staf UGD untuk segera memindahkan Pasien ini ke kamar Operasi.  “Suster tolong, segera kirim pasien ini ke kamar Operasi ya, saya tunggu di sana,” ucapku dan segera di jawab, “baik dokter, segera kami laksanakan,”

Operasipun berjalam dengan baik dan lancar, semua keadaan darurat malam itu dapat aku lalui dengan baik, dengan tidak lupa aku akhiri dengan  Sholat sunnat dua roka’at untuk mengucap syukur kepada Sang Khaliq atas semua kebaikan yang kuterima malam itu, karena atas seijinNya aku bisa membantu mencegah gadis ini dalam upaya untuk bunuh diri. Kembali aku teringat pada pertanyaanku sewaktu dijalan saat menuju kerumah sakit, apa gerangan yang membuat gadis ini senekat itu memotong urat nadinya sendiri ?, pastilah ada sesuatu yang salah telah terjadi, hatiku berbicara. Tapi sudahlah, Malam kian larut, aku harus segera kembali kerumah untuk istriahat, tapi aku menyempatkan diri untuk menemui ibu tadi yang kujumpai di UGD.  “Ibu…, semua sudah berjalan dengan baik, ibu tetap berdoa ya, agar anak ibu segera lekas sembuh, saya akan melihatnya lagi besok hari, dan malam ini biar anak ibu kami rawat dulu dirumah sakit ini,” itu penjelasanku pada ibu gadis ini.  “Terima kasih sekali dokter, atas semua bantuan dokter, saya tidak tahu bagaimana jadinya kalau tidak ada bantuan dokter, mungkin saya adalah seorang ibu yang paling menyesali diri atas semua kejadian ini”, ucap ibu itu.  Tanpa aku minta ibu ini terus saja bicara tanpa henti dengan menceritakan semua kronologis kejadian yang menimpa anak gadisnya, dengan sedikit gelisah aku harus menunda sedikit waktu kepulanganku kerumah, dan ibu ini bercerita, sebenarnya sore itu dok, saya berseteru dengan anak saya, saya mencoba menasehatinya tentang pria pilihan hatinya, saya kurang setuju dengan pilihannya, tapi anak saya tetap pada pendiriannya, akhirnya kamipun bertengkar hebat, sehingga tanpa sepengetahuan saya ia nekat memotong nadi di kedua tangannya, dengan diiringi nada penyesalan ibu ini menjelaskan semuanya kepadaku. Baiklah ibu, semuanya sudah terjadi, saya yakin semuanya ini ada hikmahnya jangan ibu larut terus dalam rasa penyesalan ibu, sepenuhnya ini bukan kesalahan ibu semata, hanya kesalahan dalam komunikasi antara ibu dan anak ibu. Akhirnya saya minta ijin dengan ibu ini untuk pamit pulang karena malam sudah kian larut, sambil aku melirik jam dipergelangan tanganku, ternyata waktu menunjukkan jam 03.15 WIB , Wah sudah pagi rupanya, ucap bathinku… dan akhirnya aku tiba dirumah dan mulai tidur sebentar hingga pagi menjelang.

Keesokan harinya, aku datangi ruang perawatan gadis yang ku operasi tadi malam, dan nampak dia sudah siuman dan sedang memulai sedikit sarapan bubur cair yang disediakan suster ruangan, Kusapa gadis itu dengan Ramah, Selamat pagi adik…., bagaimana keadaanmu pagi ini ?, dengan diiringi senyum manisnya gadis ini menjawab,” selamat pagi dokter, terima kasih dok, sudah menolong saya dengan diiringi rembesan air mata di sudut mata cantiknya. “iya sama sama”, ucapku.  Dengan sedikit menyelidik aku menanyakan pada gadis ini, Adik….., kenapa adik memotong kedua pergelangan tanganmu ?, Spontan gadis itupun menceritakan persoalan yang sebenarnya terjadi antara ia dan ibunya, yang kurang lebih sama dengan cerita yang disampaikan ibunya tadi malam kepadaku, namun gadis ini sepertinya ada yang kurang benar terhadap penilaian semua perhatian ibunya terhadap dirinya, karena anak ini menceritakan bahwa ibunya terlalu memaksakan kehendak hatinya dan sudah mengatur hidupnya juga sudah merampas hak kebebasan hidupnya dalam memilih.  Ada sedikit keinginanku untuk memberi penjelasan kepada gadis ini atas sebuah persepsi yang sedikit kurang benar tentang penilaiannya terhadap sikap ibunya, ya mungkin ini disebabkan komunikasi yang kurang lancar diantara mereka dan kurang terbuka satu dengan yang lainnya. Lalu aku memberanikan diri untuk sedikit menasehati gadis ini dan sepertinya gadis ini tidak keberatan dengan semua nasehatku, maka aku mulai mengulas semua persoalan yang terjadi antara ia dan ibunya.

Sebenarnya dik, ibumu sangat sayang kepada adik, cuma kadang caranya agak sedikit berlebihan, sehingga adik salah dalam persepsi untuk menerima perlakuan ibumu itu. Dengan expresi wajah tanda tanya gadis ini memandangi raut mukaku.  Begini adik, ibumu mengemukakan pendapatnya atas dasar sayang kepada mu, tapi kamu melihatnya ibu terlalu mengatur semua keinginanmu, ini hanya salah paham saja, hal ini terjadi karena masing masing berpegang teguh pada pendirian dan keyakinan kalian masing masing, sehingga komunikasi yang terbina menciptakan Persepsi yang salah dan ini berakibat terjadinya salah paham itu. Mungkin adik bingung ya dengan pemahaman cara salah kita terhadap sebuah persepsi yang kita bangun dalam hati dan benak kita dan sesungguhnya ini merupakan sebuah kewajaran hidup seseorang, cuma yang membedakan ada tidaknya seseorang itu bisa menjabarkan makna dari sebuah persepsi yang dibangunnya dalam hati dan benak pikirannya. Kalau saat ia membangun persepsi itu didasari dengan sebuah emosi berupa kekesalan, kedongkolan bahkan kebencian, pastilah penjabaran atas sebuah persepsi itu akan salah dan berakibat timbulnya kesalah pahaman, tapi sebaliknya bila kita membangun persepsi itu atas dasar Cinta, Kasih sayang dan Ketenangan pastilah penjabarannya akan berbeda sama sekali. Tapi ini semua bukan sepenuhnya kesalahan adik semata, tapi dikarenakan hanya kesalahan cara berkomunikasi antara adik dan ibu, mungkin waktunya kurang tepat, atau suasana hati dari kalian tidak tepat, atau pikiran kalian saat itu sedang tidak jernih, sehingga segala sesuatu yang kita lihat hanya dari tampakan luarnya saja artinya melihat suatu masalah hanya dilihat dari penampilan luarnya yang buruk, jelek dan menakutkan, sehingga ini membuat kita KETAKUTAN dan KECEMASAN dalam menghadapi masalah yang timbul itu. Dan kadang kita sebagai manusia sering melihat suatu persoalan hidup dengan pemikiran yang aneh aneh dari hasil buah pikirannya sendiri, jarang menilai suatu masalah atau kejadian dari sudut pandang lain atau sudut pandang yang jauh berbeda dari buah pikirannya. Mungkin adik makin bingung ya…..ucap saya, baiklah kalau begitu adik mau dengar tidak, dokter punya cerita yang sangat bagus buat adik simak, agar adik bisa belajar dari cerita ini, dengan diikuti anggukan kepalanya gadis ini mau mendengarkan ceritaku.

Ada seekor anak kodok kecil dan induknya, saat itu tiba tiba hari berubah menjadi gelap dan sangat mencekam, maka berkatalah anak kodok ini pada induknya,” ibu apakah kita akan binasa ?”, dengan tenang induknya berkata,” Tidak anakku, sesuatu yang kita nanti nantikan akan segera tiba”. Maka anak kodok kecil itu kembali tenang. Tiba tiba datanglah angin yang sangat kencang dengan diikuti suara bergemuruh sambil menerbangkan seluruh dedaunan yang ada disekitar mereka, Anak kodok itu berkata lagi,” Ibu inikah sesuatu yang kita tunggu tunggu itu ?”, sambil memegangi lengan ibunya karena ketakutan.  ” Bukan anakku, itu hanya angin saja yang merupakan bagian dari sesuatu yang kita tunggu tunggu”, ucap induknya lagi, dan kembali anak kodok ini menjadi tenang sambil menikmati hembusan angin yang meniup seluruh badannya. Kemudian tiba tiba….Blarrrrr…..suara petir menyambar diikuti kilatan cahaya yang menyilaukan dan mengagetkan seluruh penghuni muka bumi ini. Dan anak kodok kecil itu berlari kebawah perut induknya untuk berlindung sambil ketakutan dan gemetar, seraya berkata,” ibu inikah sesuatu yang kita tunggu tunggu itu ?”, Induknya berkata lagi, “Bukan anakku itu hanya petir dengan cahayanya yang memberi tanda tanda akan datangnya sesuatu yang kita tunggu tunggu”, Tetap saja anak Kodok kecil ini tidak mengerti dengan semua ucapan ibunya yang begitu tenang melihat semua kejadian itu dan tetap bersembunyi dibawah perut induknya. Lalu induk kodok ini berkata,” Keluarlah anakku, lihatlah semua kejadian itu dengan hati dan pikiranmu yang jernih, jangan melihatnya dengan hasil buah pikiranmu yang menakutkan itu sehingga kamu salah menilai atas semua kejadian dan tanda tanda alam ini“, begitulah penjelasan induk kodok ini kepada anaknya, Lalu tak lama kemudian Hujanpun turun dengan derasnya menguyur dan membasahi seluruh yang ada di muka bumi ini, maka keluarlah anak kodok kecil itu dari persembunyiannya dibawah perut induknya sambil berteriak, ” Horrreeeee horrreeeee…, ibu lihat hujan telah datang, dengan gembira anak kodok kecil ini menyambut datangnya hujan, dan berkata,” Ibu inikah sesuatu yang kita tunggu tunggu itu ?”, “Iya anakku, jawab induk kodok itu kepada anaknya dan tetap berkata, tunggu nak masih ada satu lagi yang belum datang”, ucap induk kodok itu, ” Apa itu ibu ?”, ” Tunggu saja nanti bila tiba saatnya pasti akan datang”, Induk kodok itu menjelaskan. Dan betul tak lama kemudian hujanpun mulai reda dan sinar mataharipun mulai menampakkan dirinya lagi, lalu induk kodok itupun mengajak anaknya berjalan menuju tepian danau dan menunjukkan kepada hamparan warna yang melengkung di hadapannya, ya sebuah pelangi yang begitu indahnya, memamerkan untaian warna yang begitu indah di pandang, dan anak kodok kecilpun berkata, ” aduh indahnya ibu pelangi itu, siapa yang melukisnya ?”, Induk kodokpun berkata, ” Inilah nak…, semua kejadian yang kita alami semenjak awal tadi itu, semua adalah ciptaan Allah, dan Allah sudah mengajarkan kepada kita Hambanya untuk mempelajari semua tanda tanda alam ini, dan pastinya dengan  hati yang jernih dan pikiran yang tenang, tentunya kamu akan bisa mendapat pelajaran itu dengan sangat INDAH diakhirnya, seindah Pelangi yang kau tatap itu.

Inilah sebuah cerita yang kusampaikan pada gadis pasienku ini dan juga didengar oleh ibunya, dengan sedikit ulasan untuk menguatkan makna semua di balik cerita itu.

Memang sesungguhnya manusia sering mejalani hidup ini dengan segala keterbatasanya, makanya tak pernah Allah SWT bosan mengajarkan kepada hambanya tentang arti sebuah kehidupan, sehingga manusiapun memperoleh kehidupan yang mulya dihadapanNya, kadang kita manusia selalu menghadapi semua persoalan dan masalah hidup dengan buah pikirannya sendiri berupa persepsi yang diciptakan sendiri sehingga menciptakan sebuah KETAKUTAN dan KECEMASAN yang sangat menyiksa hidupnya sendiri seperti yang dilakukan anak kodok kecil itu, yang selalu ketakutan dan hidup dalam kecemasan atas dasar buah pikiran yang dikembangkannya sendiri, tapi bersyukurlah anak kodok ini memiliki seorang ibu yang sangat mengasihinya, selalu membimbing, mendampingi, mendidik dan memperhatikan buah hatinya dengan segenap penuh jiwa raganya, sehingga anak kodok kecil ini bisa belajar bagaimana ia mengahadapi setiap persoalan yang ia temui dengan persepsi yang dibangun atas dasar cara memandang dari sudut pandang yang sangat berbeda dengan hasil buah pikirannya sendiri.

Kadang memang kita lupa bahwa dalam menghadapi segala persoalan dan masalah hidup kita lebih mengedepankan pendapat pikiran dan keyakinan kita sendiri tanpa mau mencoba menerima masukan dan saran dari orang lain yang melihat masalah dan persoalan hidup itu lebih arif dan bijaksana.

Dan pada setiap kita menghadapi masalah dan persoalan hidup selalu timbul perbadaan persepsi, ini wajar dan sangat manusiawi, hanya saja jangan kita mempermasalahkan perbedaan itu dengan mengedepankan buah pikiran dan keyakinan semata, coba melihat sebuah perbedaan itu timbul untuk saling melengkapi segala kekurangan yang ada pada diri kita masing masing, dan sebenarnya perbadaan itu juga sangat INDAH, seperti halnya PELANGI yang datang setelah hari hujan, bukankah pelangi itu tampak semakin INDAH dikarenakan adanya perbedaan warna yang di tampilkannya ?.

Makanya para pembaca yang budiman, janganlah kita berhenti untuk belajar, teruslah belajar dari apapun termasuk dari tanda tanda alam yang Allah SWT berikan kepada kita hambanya, dan janganlah kita menutup hati dan pikiran kita dengan nasehat yang diberikan orang lain, dengan selalu berfikiran negatif, curiga dan prasangka buruk, binalah hati dan pikiran kita dengan sesuatu yang bermanfaat dengan selalu mau mendengarkan segala masukan, saran dan nasehat yang membangun, karena dengan cara ini hati dan pikiran kita akan terbiasa untuk melihat dari sisi yang agak berbeda dari hasil buah pikiran kita, sehingga semua ketakutan dan kecemasan yang tercipta atas dasar buah pikiran kita tidak menyiksa kehidupan kita, Hidup ini sangat indah, jalani dengan Ikhlas dan tawakal, niscaya semua kasih Tuhan akan kita rasakan.

Akhir dari pengalaman saya ini, si gadis dan si ibu ini akhirnya menyadari sepenuhnya atas semua kekeliruan yang terjadi diantara mereka, si ibu menyadari, semua yang dilakukan kepada anak gadisnya hanya berdasarkan ketakutan dan kecemasan dari hasil buah pikirannya sendiri karena ia selalu rasa curiga, prasangka buruk yang belum tentu benar adanya. Dan si anak gadis ini menyadari dengan sepenuh hatinya, bahwa apa yang dilakukan ibunya kepadanya karena atas dasar rasa sayang dan kasihnya kepada dirinya, hanya ia sendiri yang salah mengartikan semua tanda tanda yang diberikan ibunya terhadap dirinya, karena ia selalu mengedepankan hasil buah pikiran dan keyakinannya yang melihat segala sesuatu itu dari bentuk fisik luarnya saja, selalu menilai sesuatu dengan keburukan, kemarahan, kebencian, kekesalan, egois dan lain lain, padahal kalau ia mau mencoba berpikir dari sudut pandang ibunya pastilah hal ini tidak perlu terjadi.

Sambil berpelukan mereka berdua menangis menyesali semua kekeliruan yang terjadi diantara mereka berdua, dan sepertinya mereka bisa memulai hidup mereka dengan sebuah keceriaan baru yang ada dihadapan mereka, dan saya mengatakan pada mereka, Inilah hikmah dibalik semua kejadian yang terjadi antara ibu dan anak gadis itu.

Hanya saya sedikit menambahkan buat si ibu gadis ini tentang sebuah syair karya dari Kahlil Gibran yang mengatakan. ” Anakmu bukan milikmu, mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya…….., sebab mereka mempunyai alam pikiran sendiri, Berikan tempat bagi Raganya, sebab Jiwa mereka adalah penghuni Masa depan yang tidak dapat kau kunjungi, bahkan juga tidak dalam mimpimu”.

Akhirnya ibu ini merenungi syair yang saya sampaikan ini dan ia menerimanya dengan tangisan bahagia karena menyadari akan sebuah kekeliruannya selama ini, dan mendapat pelajaran yang sangat berharga.

Salam Sehat dari saya, Anugra Martyanto di Purwokerto.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: