Catatan : Ini lanjutan bagian pertama dari judul yang sama.
Ya….itulah surat yang bersampul biru yang kuterima dari pasien gadis kecilku yang bernama Astrid Gracia, pasien yang sangat tabah dalam menjalani hidup kanak kanaknya, begitu indah kurasakan kalimat yang tergores di suratnya itu, tapi juga menggores relung hatiku, ya…aku mendapat sebuah pembalajaran lagi dari seorang malaikat kecilku, seorang pasien gadis cilik yang memberi makna sebuah kehidupan, ya dia mengajariku bahwa tubuh ini adalah rumah kecil buat singgahan sementara dalam kehidupan di dunia ini, bila rumah ini sudah tidak layak dihuni lagi seperti rusaknya bagian rumah ini akibat sebuah penyakit seperti yang diderita Astrid, maka kitapun harus pindah ke rumah baru yang lebih abadi yaitu rumah di surga milik Tuhan yang akan memberikan kesempurnaan dalam menjalani kehidupan yang abadi.
Makna kehidupan yang selama ini kulihat dari sudut pandangku sebagai dokter ahli kanker, hanya seperti sebuah pelayanan yang kuberikan untuk melayani orang orang yang sangat kukasihi, ya buah hatiku, istriku dan semua pasien pasienku, saking ingin menyikap seluruh rahasia dalam keilmuanku, apa kiranya penyebab dari semua penyakit kanker yang mematikan ini, aku terus belajar dan belajar guna mencari jawabannya, dengan mendalami teknologi biomolekuler, aku berharap dapat menemukan jawaban atas kebodohanku ini, tapi makin aku mencari, semakin jauh jawaban atas kebodohanku ini, aku terlalu hanyut akan obsesiku yang ingin menemukan penyebab dari penyakit kanker ini, agar setidaknya aku bisa melawannya dengan pengetahuan ini dan berharap semua penyakit pasienku dapat sehat kembali dan kembali kepada hak hidup yang selayaknya mereka nikmati dan mereka jalani, aku hanya melihat bahwa ada yang salah dalam perkembangan sebuah sel tubuh dalam perkembangannya, sehingga menjadi kanker yang menggerogoti tubuh induk semangnya yang dijadikan tempatnya bertumbuh, semakin dalam aku mencari penyebabnya semakin lelah aku dibuatnya, dan selangkah aku menemukan titik terang, tapi seribu langkah penyakit kanker ini berkembang melesat diluar jangkauanku menahan pertumbuhannya hingga merenggut nyawa sebagian pasien pasienku. Inilah kesombonganku atas sebuah obsesi dalam menyikap rahasia si pemilik Hidup, seolah aku mengibarkan bendera perang terhadap Nya, yang menciptakan kanker dengan segudang amunusi berupa keganasan yang mengerogoti sel tubuh lainnya, aku sempat menyalahkan Tuhan atas semua ketidak-adilan ini……inilah kelemahan terbesarku, aku lupa bahwa ilmu manusia tidak sebanding dengan si pemilik Hidup, dan terlalu naif aku untuk mengakui ini semua.
Tapi setelah aku membaca surat dari pasienku sekalikgus anakku Astrid Gracia, dia begitu pandainya memaknai sebuah arti kehidupan, dia mencerna semua nasehat nasehatku akan kebesaran Tuhan dengan ciptaannya bintang bintang dan angel yang selalu menemaninya dikala ia merasakan sakit yang amat sangat selama ia menderita kanker tulang ini, juga saat ia merasakan sakitnya yang sangat saat dilakukan pengobatan chemotherapi dan radiasi, ya semua itu dilaluinya tanpa dendam dan prasangka buruk kepada si pemilik Hidup, begitu pandainya Astrid kecilku ini memerima penyakit dan penderitaan tubuhnya dengan mengumpamahan bahwa tubuhnya adalah rumah kecilnya tempat ia singgah menjalani kehidupan sementara dalam dunia ini, walaupun ia tahu begitu lemahnya tubuh ini sehingga ia harus menerima kondisi sakitnya dengan tabah dan ikhlas sehingga rasa sakit yang dirasakannya merupakan sebuah keindahan dan kasih sayang Tuhan kepadanya, yang telah menyediakan rumah baru bahkan istana megah di Surga yang lebih kekal dan abadi.
Terima kasih malaikat kecilku, selamat jalan ke rumah barumu, ayah tidak pernah menyesal telah merawat sakitmu dan ayah minta maaf sebesar besarnya atas keterbatasan ilmu yang ayah miliki karena tidak bisa menyembuhkan penyakitmu, ternyata Astrid malaikatku adalah Professor yang paling pandai yang pernah ayah temui selama proses ayah menuntut ilmu, ya guru besar yang sangat jenius dalam memberi pembelajaran yang sangat berarti dalam memaknai sebuah kehidupan, dan ayah juga minta maaf atas nama pribadi, Amar adikmu dan Ibundanya, karena ayah tidak ada disisimu saat engkau pindah ke rumah barumu, tapi ayah yakin seandainya saat itu fisikmu memungkinkan pastilah ayah akan mengajakmu ke Disneyland kota indah impian buat Amar dan anak anak lainnya, tapi saat ini kamu sudah menemukan kota indah itu di Surga sana……
Salam tersayang buat malaikat cilikku Astrid Gracia, kami semua sangat mencintai dan menyangimu sampai kapanpun.
Salam dari kami, Anugra Martyanto. Adik Amar dan Bunda Nia.
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
